Telusuri

Senin, 22 Mei 2017

SIFAT ORANG MUNAFIK DALAM URUSAN IBADAH

SIFAT ORANG MUNAFIK DALAM URUSAN IBADAH

SENANG DENGAN KEMAKSIATAN

Orang yang beriman bisa saja terjatuh dalam kemaksiatan karena mengikuti hawa nafsunya, akan tetapi dia akan segera bertaubat dan memperbaiki diri, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءُ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Setiap bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering berbuat kesalahan adalah orang yang mau bertaubat[1]

Dia akan menyesali dan merasa berat dengan dosa yang dia lakukan, sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu :

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَيَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا فَطَارَ

Seorang Mukmin melihat dosa-dosanya seperti dia berada di bawah gunung dia takut gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir, dia melihat dosa-dosanya seperti melihat lalat hinggap dihidungnya dengan sekali kibasan maka lalat itu akan pergi.”[2]

Ini berbeda dengan orang munafik yang bersuka ria dan merasa nyaman dengan perbuatan dosa dan maksiatnya. Padahal menampakkan perbuatan maksiat dan merasa senang dengannya adalah bentuk kemaksiatan tersendiri yang akan ditambahkan dosanya dengan kemaksiatan pertama.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ وَسَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ فَأَنْتَ مُؤْمِنٌ

Jika perbuatan baikmu membuatmu gembira dan perbuatan burukmu membuatmu bersedih, berarti kamu seorang Mukmin”[3]

Allâh menyebutkan tentang orang-orang munafik:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasûlullâh[At-Taubah/9:81]

Mereka senang dengan tidak ikut serta dalam jihad bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan bahkan itulah yang mereka inginkan. Ini menunjukkan lemahnya keimanan atau bahkan hilangnya keimanan dari dada mereka.

Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa mengoreksi dan memperbaiki keimanan, agar jangan sampai terjatuh kepada sifat kemunafikan ini.

BENCI DENGAN KETAATAN

Dalam banyak tempat di dalam al-Qur’an, Allâh Azza wa Jalla mengaitkan antara iman dan amal shalih, karena amal adalah bagian dari iman dan merupakan bukti serta buah dari keimanan yang benar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” [Al-Kahfi/18:88]

Mereka yang beriman melaksanakan amal shalih dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Mereka juga mencintai Allâh Azza wa Jalla dan mencintai apa-apa yang dicintai Allâh Azza wa Jalla dan mencintai setiap amalan yang akan mendekatkan mereka kepada Allâh Azza wa Jalla . Mereka mendapatkan ketenangan dari ibadah yang mereka lakukan.

Inilah keadaan orang yang beriman. Keimanan sudah tertanam di hatinya. Dia telah merasakan kelezatan ibadah dan keimanan tersebut telah berbuah amal shalih dan akhlak mulia.

Ini berbeda dengan orang munafik. Mereka tidak merasakan kelezatan iman dan tidak mencintai Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu, mereka tidak mencintai amalan yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allâh Azza wa Jalla . Ketika melaksanakan ketaatan, bukan ketenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati melainkan kesempitan, kesusahan dan kesedihan. Hati mereka ingkar, akidah mereka rusak dan nurani mereka gelap.

Mereka membenci agama ini dan seluruh syiar-syiar dan syariat-syariat Islam. Kalaupun terlihat mengerjakan amal ibadah, maka mereka mengerjakannya sekedar terbebas dari beban ibadah itu. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasûlullâh, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allâh dan mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.[At-Taubah/9:8]

Sebagai contoh dalam masalah infak, mereka berinfak namun disertai rasa benci. Mereka benci infak, benci orang yang mereka beri bahkan mereka benci keadaan yang mengharuskan mereka berinfak. Mereka tidak menginfakkan harta kecuali dalam keadaan terpaksa, sebagaimana dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. [At-Taubah/9:54]

Bahkan, orang munafik berusaha menempuh berbagai cara agar bisa terlepas dari ibadah. Mereka berani bersumpah dusta, mengajukan udzur dan mencari-cari alasan atas ketidakikutsertaan mereka  dalam suatu amal ibadah, seperti dalam masalah jihad. Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang keadaan mereka, dalam firman-Nya, yang artinya, “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allâh: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri[644] dan Allâh mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. [At-Taubah/9:42]

Mereka enggan melakukan ketaatan kecuali dalam keadaan malas dan benci terhadap amal ketaatan dan kebaikan.

MALAS MELAKSANAKAN SHALAT

Shalat bagi orang beriman adalah penyejuk hati. Dengan shalat, mereka bermunajat memohon kepada Allâh, mendekatkan diri kepada-Nya, meminta segala hajat kebutuhan mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلاَةِ

Dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat[4]

Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu menggambarkan bagaimana semangatnya para salaf dalam menunaikan shalat. Beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Sungguh seorang laki-laki didatangkan dengan dipapah oleh dua orang dan diberdirikan di shaf.”[5]

Semua ini, karena mereka mengetahui arti shalat dan kemuliaannya serta derajatnya yang tinggi.

Ini berbanding terbalik dengan orang munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. [At-Taubah/9:54]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allâh, dan Allâh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allâh Azza wa Jallaecuali sedikit sekali [An-Nisȃ’/4:142]

Dan shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ الْعِشَاءُ وَالْفَجْرُ

Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh[6]

Diantara bentuk peremehan mereka terhadap shalat:

Tidak ikut shalat berjamaah bersama kaum Muslimin.Melaksanakan shalat dengan rasa malas dan rasa enggan.Riya’ dan menghiasi shalatnya agar dilihat manusia.Tidak menghadirkan hati dan tidak khusyu’.Mengakhirkan waktu shalat atau menunda-nunda pelaksanaan shalat.

Maka, hendaklah setiap Muslim mengetahui apa yang menyebabkan mereka lalai dari shalat, agar mereka bisa menghindarinya sehingga tidak terjerumus dalam kemunafikan. Diantara sebab-sebab itu adalah :

Tenggelam dalam kemaksiatan, sehingga menghalangi seseorang dari mengingat Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan shalat.Sibuk dengan urusan dunia, hingga lupa tujuan dia diciptakan di dunia ini yaitu untuk beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla .Pendidikan yang buruk yang menyebabkan peserta didik kurang memperhatikan shalat.Bergadang malam, sehingga menyebabkan luput dari mengerjakan shalat Shubuh.Tidak mengetahui pentingnya shalat dan bahayanya meninggalkan shalat.Kurangnya nasehat dari orang-orang yang berkewajiban memberikan nasehat dan peringatan kepada orang-orang yang tidak shalat.

Semoga Allâh Azza wa Jalla membersihkan kaum Muslimin dari kesalahan dan kekeliruan yang besar ini.

MEMERINTAHKAN PERKARA YANG MUNKAR DAN MELARANG PERKARA YANG MA’RUF

Yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah setiap perkara yang dianggap baik secara syariat dan diperintahkan untuk dilakukan seperti tauhid dan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan al-munkar adalah setiap perkara yang diingkari syariat dan akal yang selamat, seperti kesyirikan dan seluruh kemaksiatan

Orang yang fitrahnya belum berubah dan belum tercemari sifat-sifat jahiliyah, mereka pasti mencintai kebaikan dan membenci kemungkaran. Karena perkara yang mar’uf termasuk perkara yang dikenal oleh jiwa yang suci dan lurus sedangkan  perkara yang mungkar diingkari oleh jiwa dan dijauhi. Karena jiwa itu tahu bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan melakukan perbuatan yang ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran.

Ini tidak sama dengan orang-orang munafik. Jiwa mereka terbiasa dengan kebatilan yang melekat dalam setiap keadaan, sehingga fithrah mereka terbalik. Mereka memandang  perkara yang ma’ruf sebagai kemungkaran dan kemungkaran sebagai sesuatu yang ma’ruf. Mereka bahu membahu dalam memerintahkan kepada kekufuran, kesyirikan, perbuatan maksiat dan mencegah perbuatan baik dan bahkan jika mampu, mereka akan memerangi kebaikan dan menyakiti orang-orang yang melakukan kebaikan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ  الْفَاسِقُونَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allâh, maka Allâh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik [At-Taubah/9:67]

Adapun orang-orang yang beriman, mereka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan saling mencegah dari kemungkaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allâh dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allâh; sesungguhnya Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [At-Taubah/9:81]

Kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar kita dijadikan termasuk golongan orang-orang yang beriman dan dijauhkan dari sifat kemunafikan.

_______
Footnote
[1] HR. At-Tirmidzȋ, no. 2499; Ibnu Mȃjah, no. 4251; Al-Hȃkim, 4/244. Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh al-Albani. Lihat Misykatul Mashȃbȋh

[2] HR. At-Tirmidzȋ, no. 2497

[3] HR. Ahmad, 5/252; Ibnu Mȃjah, 1/200; Al-Hȃkim, 1/14. Imam adz-Dzahabi menilai hadits ini shahih. Syaikh al-Albani juga menilai hadits ini shahih dalam as-Silsilah ash-Shahîhah, no. 550

[4] HR. Ahmad, no. 2293; An-Nasȃ’i, no. 8887; Abu Ya’lȃ, no. 3482; Ad-Dhiya’, no. 1608 dan al-Albȃni menilai hadits ini shahih dalam Shahȋhul Jȃmi’ ash-Shaghȋr no. 3119

[5] HR. Muslim, Kitabul Imȃm, 5/156

[6] HR. Al-Bukhâri, 2/165 dan  Muslim, 5/154

Definisi Nifak Dan Jenisnya

DEFINISI NIFAK DAN JENISNYA.

DEFINISI NIFAK

Nifak secara bahasa  berarti salah satu jalan keluar yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya. Karena yarbu’, jika dicari dari lobang yang satu, maka ia lari dan akan keluar dari lobang yang lain.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata nifaq berasal dari kata النَّفَقُ (nafaq) yaitu lobang tempat bersembunyi.[2]

Sedangkan nifak menurut syara’  berarti menampakkan keislaman dan kebaikan serta menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Perbuatan seperti ini dinamakan nifak karena dia masuk dalam syari’at dari satu pintu lalu keluar dari pintu yang lain. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla memperingatkan dengan firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang munafiq itu mereka adalah orang-orang yang fasiq. [At-Taubah/9:67]

Al-fâsiqûn maksudnya orang-orang yang keluar dari syari’at

Allâh Azza wa Jalla  hukumi orang-orang munafik itu lebih jelek dari orang-orang kafir. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. [An-Nisâ’/4:145]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ

Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allâh dan Allâh akan membalas tipuan mereka… [An-Nisâ’/4:142]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Mereka hendak menipu Allâh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allâh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. [Al-Baqarah/2:9-10]

JENIS NIFAK

Nifak ada dua jenis: Nifak I’tiqâdi dan Nifak ‘Amali.

Nifak I’tiqadi (Keyakinan)
Yaitu nifak akbar (besar), di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifak ini menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam secara totalitas dan dia akan berada di dalam neraka yang paling bawah. Allâh Azza wa Jalla menyemati para pelaku nifak ini dengan berbagai sifat buruk, seperti kufur, tidak beriman, suka mengolok-olok dan mencaci agama juga pemeluknya serta mereka sangat cenderung kepada musuh-musuh agama Islam ini untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafik jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman, terutama ketika kekuatan Islam mulai tampak dan mereka tidak mampu membendungnya secara terang-terangan. Dalam kondisi seperti itu, mereka memperlihatkan diri mereka telah menganut agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan menyelamatkan jiwa dan harta benda mereka. Oleh karena itu, orang munafik menampakkan diri sebagai orang yang beriman kepada Allâh, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan hari akhir, tetapi dalam batinnya dia berlepas diri dari semua itu dan tidak mengimaninya. Dia tidak beriman kepada Allâh Azza wa Jalla . Dia tidak mengimani atau tidak percaya bahwa Allâh Azza wa Jalla itu bias berbicara dengan ucapan yang diturunkan kepada seorang manusia yang dinobatkan sebagai utusan-Nya kepada seluruh umat manusia. Utusan ini memberikan petunjuk dengan izin-Nya serta mengingatkan mereka terhadap siksa-Nya.

Allâh Azza wa Jalla telah menyingkap tabir dan rahasia mereka dalam al-Qur’an. Allâh Azza wa Jalla menjelaskannya kepada para hamba-Nya agar mereka berhati-hati dan mewaspadai mereka. Di awal surat al-Baqarah, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan tiga golongan manusia yaitu kaum Mukminin, kaum kuffar dan kaum munafik. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan tentang kaum Mukminin dalam empat ayat, tentang kaum kuffar dalam dua ayat dan tentang kaum munafik dalam tiga belas ayat. Ini karena banyaknya jumlah mereka dan meratanya ujian akibat prilaku mereka serta beratnya fitnah yang diakibat oleh mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin. Karena mereka dinisbatkan ke dalam Islam, sebagai penolongnya dan orang-orang yang loyal terhadap Islam, namun sejatinya mereka adalah musuh Islam.

Nifak jenis ini ada enam macam[3], yaitu:

Mendustakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Mendustakan sebagian ajaran yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Membenci Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Membenci sebagian ajaran yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Merasa gembira dengan kemunduran agama yang dibawa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini
Tidak senang dengan kemenangan Islam
Nifak ‘Amali (Perbuatan)

Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafik, tetapi masih tetap memiliki iman di dalam hati. Nifak jenis ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama atau tidak menyebabkan murtad, namun itu merupakan wasîlah (perantara) yang berpotensi mengantarkan kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifak. Lalu jika perbuatan nifaknya banyak, maka akan bisa menjadi sebab yang menyeretnya ke dalam nifak yang sejati, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Ada empat hal yang jika keempat-empatnya ada pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafik sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki salah satu karakter kemunafikan sampai ia meninggalkannya: (1) jika dipercaya ia berkhianat, (2) jika berbicara ia berdusta, (3) jika berjanji ia memungkiri, dan (4) jika bertengkar ia melewati batas.[4]

Terkadang pada diri seorang hamba terkumpul kebaikan dan keburukan, perbuatan iman dan perbuatan kufur serta nifak. Karena itu, ia berhak mendapatkan pahala dan siksa sesuai konsekuensi dari apa yang ia lakukan. Diantara sifat nifak itu adalah malas dalam melakukan shalat berjama’ah di masjid. Ini termasuk sifat orang-orang munafik. Sifat nifak itu, sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya. Para Sahabat g sangat takut kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam nifak. Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku bertemu dengan 30 Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka semua takut kalau-kalau ada nifak dalam dirinya.”[5]

PERBEDAAN ANTARA NIFAK AKBAR (BESAR) DENGAN NIFAK ASHGAR (KECIL)

Nifak akbar (besar) menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, sedangkan nifak ashgar (kecil) tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama.
Dalam nifak akbar (besar), yang berbeda antara yang lahir dengan yang batin adalah dalam hal keyakinan, sedangkan nifak kecil, yang berbeda antara yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan bukan dalam hal keyakinan.
Nifak akbar (besar) tidak akan muncul dari seorang Mukmin, sedangkan nifak kecil bisa terjadi dari seorang Mukmin.
Pada umumnya, pelaku nifak besar tidak bertaubat. Seandainya pun bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterima atau tidak taubatnya di hadapan hakim, berbeda dengan nifak kecil, pelakunya terkadang bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla .
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Cabang-cabang kemunafikan sering hinggap di hati kaum Muslimin, lalu Allâh Azza wa Jalla menerima taubatnya. Terkadang hati seorang Mukmin dihampiri oleh sesuatu yang menyebabkan nifak lalu Allâh Azza wa Jalla menghalaunya dari Mukmin tersebut. Seorang Mukmin itu diuji dengan bisikan syaitan dan bisikan-bisikan kekufuran yang menyebabkan mereka gelisah. Ada Sahabat z yang mengatakan, “Wahai Rasûlullâh! Sungguh seorang diantara kami merasakan sesuatu dalam dirinya yang mana dia lebih senang jatuh dari langit ke bumi daripada menceritakan apa yang dia rasakan itu.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah sharîhul Iman[6] (keimanan yang murni-red),” dalam riwayat lain, “Dia merasa berat untuk menceritakannya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ

Segala puji bagi Allâh Azza wa Jalla yang telah menolak tipu daya syaitan sehingga menjadi sekedar bisikan[7]

Maksudnya, munculnya bisikan ini yang disertai rasa benci dan ada upaya untuk menangkalnya merupakan sharîhul imân[8]

Sedangkan tentang pelaku nifak akbar, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). [Al-Baqarah/2:18]

Maksudnya, mereka tidak akan kembali kepada Islam dalam hati mereka.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pe-lajaran? [At-Taubah/9:126]

_______
Footnote
[1] Dinukil dari kitab ‘Aqîdatut Tauhîd, hlm. 90-94, Cet. Darul Minhaj, Cetakan pertama, tahun 1434 H

[2] Lihat an-Nihâyah , 5/98 oleh Ibnul Atsiir

[3] Majmû’atut Tauhîd an-Najdiyah, hlm. 9

[4] Muttafaq alaih dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu . HR. Al-Bukhâri, no. 34 dan Muslim, no. 207

[5] Disebutkan oleh al-Bukhâri mu’alaqan dengan sighat jazm, 1/146

[6] HR. Imam Muslim, no. 338

[7] HR. Ahmad, 1/235, no. 2097; Abu Dawud, no. 5112. Keduanya dari Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu

[8] Kitâbul Imân, hlm. 238

Rabu, 17 Mei 2017

SIFAT KAUM MUNAFIK DALAM URUSAN AQIDAH

بسم الله الرحمن الرحيم

🌴assalamu'alaikum warahmatullahi wabaarakatuh🌴

SIFAT KAUM MUNAFIK DALAM URUSAN AQIDAH

👉MENENTANG ALLAH AZZA WA JALLA DAN RASUL-NYA

Di antara karakter kaum munafik yang paling menonjol adalah penentangan terhadap Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ

Tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allâh dan Rasûl-Nya, maka sesungguhnya nerakan jahannamlah baginya, kekal mereka di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar. [At-Taubah/9:63]

Pangkal makna penentangan (muhâddah) adalah menyelisihi, memerangi, membangkang, memusuhi dan melawan.[1] Dan semua makna ini terhimpun dalam diri orang munafik.

fenomena penentangan terhadap Allâh Azza wa Jalla yang paling signifikan, tampak pada berbagai hal berikut:

Keluar dari iman setelah memasukinya. Dosa ini lebih parah dari kekufuran yang asli. Manusia yang lurus bila telah merasakan manisnya iman, tak mungkin keluar darinya. Sedangkan munafik berbalik lagi ke dalam kekufuran. Mengenai hal ini Allâh berfirman dalam rangkaian ayat 1-3 dari Surat Al-Munâfiqûn. Di antaranya Allâh berfirman:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

Yang demikian itu (yaitu perbuatan buruk kaum  munafik tersebut) adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. [Al-Munâfiqûn / 63:3]

1. Melakukan penipuan, dengan menampakkan iman dan menyembunyikan kekufuran. Bagaimana mungkin manusia yang merupakan makhluk lemah mengira dirinya bisa menipu Allâh Penguasa langit dan bumi?

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allâh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. [Al-Baqarah /2: 9]

2. Tidak mengenal Allâh sehingga berprasangka buruk terhadap-Nya, dengan meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak menolong kaum Mukminin. Ini seperti ucapan salah seorang munafik tentang kaum Muslimin kala mereka hendak keluar menuju Tabuk, “Apakah kalian menyangka bahwa memerangi orang-orang Romawi sama dengan memerangi kaum lainnya? Demi Allâh! Sungguh, seakan-akan aku melihat kalian esok sedang digiring dalam keadaan terikat!”[2] Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ

dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allâh. [Al-Fath /48:6]

3. Mereka sangat getol meminta keridhaan dari sosok yang tidak berkuasa memberikan bahaya atau manfaat dan alai dari keridhaan Allâh Azza wa Jalla .

4. Mereka menentang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mendustakan dan mengharapkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya hancur. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sifat nifak seringkali terjadi terkait dengan hak Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan inilah yang sering disebut Allâh dalam al-Quran mengenai kemunafikan mereka selama kehidupan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[3]

5. Mereka memberi walâ’ (loyalitas) kepada musuh Allâh, kaum musyrikin dan ahlul kitab. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allâh akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasûl-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. [Al-Mâ’idah /5:52]

Mereka khawatir kalau umat Islam kalah, sehingga mereka memberi walâ’ kepada kaum kuffar.[4]

6. Mereka menyelisihi Syariat Allâh Azza wa Jalla dan membangkang perintah-Nya. Bila diseru berinfak di jalan Allâh, mereka enggan; Bila diseru jihad, tidak mau berangkat. Mereka tidak mengerjakan shalat kecuali dalam kemalasan; dan berbagai bentuk penentangan lainnya.

👉RIYA DAN MENCARI RIDHA MANUSIA

Amalan kaum munafik hanyalah tumpukan riya’. Iman sama sekali tidak mengisi relung hati mereka. Mereka tidak takut akan kebesaran Allâh Azza wa Jalla . Penyakit hatilah yang memicu mereka menampakkan amalan baik di depan manusia, demi kepentingan dunia mereka.

Riya masuk dalam kategori nifak kecil, bila dasar amalnya untuk Allâh Azza wa Jalla , namun dipertengahan amal, riya’ merasukinya. Namun bisa juga masuk kategori nifak besar; yaitu bila dasar amalnya memang bukan untuk mencari wajah Allâh. Jenis nifak ini hampir tidak terjadi kecuali pada kaum munafik yang merahasiakan kekufuran. Mungkin mereka menunaikan sebagian syiar Islam, namun hakikatnya mereka mencemoohnya.

Mereka infakkan harta atas dasar riya’ dan nifak, untuk mencapai ridha manusia, sehingga Allâh Azza wa Jalla tidak akan menerimanya.

يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allâh tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu. [At-Taubah /9: 96]

Selama Allâh Azza wa Jalla tidak ridha kepada kaum fasik, maka seorang Mukmin juga tidak boleh ridha kepada orang yang tidak diridhai Allâh Azza wa Jalla . Namun bila mereka meninggalkan kefasikan, maka Allâh l akan meridhai mereka, dan kaum Mukmin pun akan ridha kepada mereka.

Dalam hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allâh, Allâh pun murka kepadanya, dan Allâh membuat manusia marah kepadanya.[5]

Karena itulah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam takut kalau umat beliau terjangkiti penyakit riya’ ini.

👉LUPA KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan; sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (bakhil, tidak mau menginfakkan harta di jalan-Nya). Mereka telah lupa kepada Allâh, maka Allâh melupakan mereka. [At-Taubah /9 : 67]

Asal makna kata nisyân (lupa) adalah meninggalkan; yaitu tidak mengingat apa yang diminta untuk diingat.[6]

Lupanya kaum munafik terhadap Allâh Azza wa Jalla bisa mengandung beberapa maksud:

Syirik kepada Allâh Azza wa Jalla
Meninggalkan perintah-Nya secara total. Ini lebih umum dari bentuk di atas. Seperti dikatakan al-Fakhrurrâzî: “Mereka meninggalkan perintah-Nya hingga posisinya seperti halnya perkara yang dilupakan.”[7]
Mereka lupa mengingat Allâh.[8]
Mereka lupa akan kekuasaan Allâh Azza wa Jalla dan sunnah Kauniyyah-Nya, yaitu adzab yang ditimpakan kepada orang-orang batil dan munafik yang menentang Allâh Azza wa Jalla dan Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Ketika mereka lupa kepada Allâh Azza wa Jalla , Allâhpun memberikan hukuman setimpal, yaitu Allâh Azza wa Jalla melupakan dan membiarkan mereka dalam adzab, dan kesesatan, karena hati mereka tidak pantas menggenggam hidayah-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allâh, lalu Allâh menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. [Al-Hasyr /59: 19]

Orang  yang lupa kepada Allâh sejatinya berada di jahannam dunia sebelum ia dibenamkan di neraka akhirat.[9]

👉TIDAK RIDHA DENGAN PUTUSAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Allâh berfirman:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. [At-Taubah /9: 58]

Ini seperti yang dikatakan Dzul Khuwaishirah kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallammembagi harta ghanimah, “Berlaku adillah! Wahai Rasûlullâh!” Rasûl menjawab, “Celaka engkau! Lalu siapa yang berbuat adil bila aku tidak adil?!”[10]

Kaum munafik tidak ridha dengan putusan Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka menganggap pembagian harta tersebut atas dasar hawa nafsu. Sejatinya itu bentuk kerakusan mereka terhadap dunia.

Keridhaan terhadap putusan Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah konsekuensi syahadat Muhammad Rasûlullâh, dan juga konsekuensi syahadat Lâ ilâha illallâh. Seseorang tidak dikatakan mengakui syahadat ini kecuali bila ia taat kepada Rasûlullâh, membenarkan dan ridha terhadap keputusannya. Barangsiapa dalam masalah yang diperselisihkan berhukum pada selain Rasûl, maka sungguh ia telah berdusta.[11]

Dan pada masa sekarang ini, kita benar-benar menghadapi kalangan munafik yang tidak ridha dan menolak syariat Allâh Azza wa Jalla . Lebel usang dan tidak sesuai dengan laju zaman mereka capkan pada syariat ini. Ada kelompok lain memang tidak menolak syariat Allâh Azza wa Jalla , tetapi memahaminya semau mereka. Mereka ubah dan balik hukum Allâh Azza wa Jalla sesuai kepentingan mereka. Justru syariat syaitan lah yang mereka tegakkan, di mana pokok asasi Islam telah diubah, atas nama pembaharuan agama.[12]

Mereka ini seperti hal yang digambarkan Allâh Azza wa Jalla dalam rangkaian ayat ke-60 sampai ke-65 dari Surat an-Nisâ’.

Ketika seorang dari Anshar tidak menerima putusan Rasûl dalam sengketa masalah aliran air antara dirinya dengan Zubair Radhiyallahu anhu , maka imanpun tercabut dari orang Anshar ini. Lalu bagaimana pula dengan orang yang tidak ridha terhadap putusan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam masalah agama?![13]

👉MENGEJEK RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DAN KAUM MUKMININ

Kaum Mukminin, terutama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , telah merasakan berbagai bentuk cemoohan dari kaum munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ ۚ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Di antara mereka (orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah, “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allâh, mempercayai orang-orang Mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasûlullâh itu, bagi mereka azab yang pedih. [At-Taubah /9:61]

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as-Suddi ia berkata bahwa sekelompok munafik hendak mencerca Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian dari mereka melarang hal tersebut, dan berkata, “Kami takut kalau celaan itu sampai kepada Muhammad, ia pun akan membalas kalian.” Sebagian lagi berkata, “Muhammad itu tidak lain adalah orang yang percaya semua yang ia dengar. Kita bersumpah kepadanya, iapun akan mempercayai kita.” Maka turunlah firman Allâh di atas.[14] Ini adalah bentuk kelancangan terhadap risalah dan pengembannya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni tuduhan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempercayai semua ucapan tanpa diperiksa dulu.

Adab luhur dari Nabi yang mendengar ucapan dengan penuh perhatian, dan memperlakukan manusia  sesuai dengan lahiriyah yang selaras dengan prinsip ajaran syariat, mereka namakan dan gambarkan tidak sebagaimana semestinya.

Demikianlah kaum munafik di setiap zaman dan tempat. Mereka tidak canggung untuk mengejek apapun, walaupun ditujukan kepada Ulama rabbani, walaupun juga dalam hal yang sakral dalam agama. Yang mereka sakralkan hanyalah dunia yang mereka jalani.

Allâh Azza wa Jalla membantah mereka dengan berfirman, “[Katakanlah, “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu], mempercayai yang bermanfaat berupa wahyu yang membuat manusia menjadi shalih.[15]

Begitu pula dengan para pewaris Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamyaitu para Ulama dan da’i di setiap zaman. Mereka adalah sumber kebaikan dan petunjuk, akan tetapi kaum munafik tidak mengetauinya.

Pada perang Tabuk, seseorang berkata, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli Quran kita. Mereka orang paling rakus perutnya. Tidak pernah pula kita melihat yang paling dusta lisannya; tidak pula yang paling pengecut di medan perang (seperti halnya mereka).” Hingga sampailah berita itu kepada Rasûlullâh dan turunlah al-Quran. Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Seolah aku melihatnya bergelantung pada tali pengikat pelana unta Rasûl; sedangkan bebatuan mengantuk (kaki)nya. Sambil ia berkata, “Kami hanya ngobrol dan bersenda gurau belaka.” Namun Rasûlullâh hanya mengucapkan, “Apakah terhadap Allâh, ayat-ayat-Nya dan Rasûl-Nya kalian mengolok-olok?” [At-Taubah /9: 65].[16]

Tabiat kaum munafik adalah mereka khawatir kalau-kalau kedok dan penyelewengan mereka tersingkap. Mereka tidak tahu, betapapun mereka sembunyikan, namun itu akan terbaca dari mimik wajah dan keceplosan  juga dari lidahnya. Benar apa yang Allâh Azza wa Jalla firmankan:

وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka. [Muhammad /47: 30]

Dan barangsiapa yang mencemooh sesuatupun dari Kitabulah atau sunnah Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, atau mengejek dan mencelanya, maka ia telah kafir kepada Allâh.[17]

👉FASIK

Secara bahasa, fasik berarti keluar. Sedangkan dalam istilah syar’i fasik bermakna keluar dari ketaatan kepada Allâh; baik secara total yang berarti ia kafir dan musyrik; atau secara parsial, artinya ia ahli maksiat, meski termasuk kaum Muslimin.[18]

Munafik telah keluar dari ketaatan Allâh Azza wa Jalla . Orang munafik yang menyembunyikan kekufuran namun menampakkan Islam, padahal ia membencinya, ia adalah fasik besar. Adapun seorang Muslim yang terkontaminasi oleh sesuatu dari cabang-cabang nifak, tapi pondasi iman masih ada di hatinya, maka ia fasik kecil.

Allâh Azza wa Jalla berfirman mengenai mereka.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allâh, maka Allâh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik, mereka  itulah orang-orang yang fasik. [At-Taubah /9: 67]

Di sini,  dengan tegas divonis bahwa kaum munafik itu adalah orang-orang fasik. Di penghujung ayat tersebut, diungkapkan dengan shîghat qashr (mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu lain. Dalam hal ini mengkhususkan kaum munafik dengan sifat fasik), untuk menerangkan bahwa tidak ada kefasikan yang lebih besar daripada kefasikan kaum munafik.

Allâh Azza wa Jalla telah melabeli kaum munafik sebagai fasik di berbagai tempat dalam al-Quran, termasuk dalam Surat at-Taubah. Allâh Azza wa Jalla memberitakan bahwa amal mereka tidak diterima, dan tidak diringankan bagi mereka adzab di Jahannam. Sebab vonis ini adalah karena mereka kaum fasik.

قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْكُمْ ۖ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ

Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik. [At-Taubah /9: 53]

Allâh juga tidak akan memberi petunjuk kepada mereka. Seperti dalam firman Allâh yang artinya: Dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. [At-Taubah /9:80]

Allâh Azza wa Jalla juga melarang untuk menyhalatkan dan mendoakan mereka yang mati dalam kondisi tersebut. Sebab mereka mati dalam keadaan menentang Allâh Azza wa Jalla dan Rasûl-Nya. Allâh berfirman.

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu sekali-kali shalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allâh dan Rasûl-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. [At-Taubah /9: 84]

Hal-hal tersebut di atas ‘illah (sebab)nya adalah karena kekufuran dan kefasikan mereka. Dan kita bisa memahami bentuk kebalikan dari itu semua; yakni bahwa terdapat kabar gembira bagi kaum Mukminin yang tulus yang tidak bercampur nifak dan syirik.

👉TIDAK MENGAMBIL MANFAAT DARI AYAT-AYAT ALLAH AZZA WA JALLA

Allâh berfirman.

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ﴿١٢٤﴾ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ ﴿١٢٥﴾ أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ ﴿١٢٦﴾ وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا ۚ صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Adapun yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allâh telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. [At-Taubah /9:124-127]

Kaum munafik ketika turun ayat-ayat Allâh, mereka bertanya-tanya kepada sesamanya penuh keraguan, siapakah yang dapat mengambil manfaat dari ayat tersebut?!

Kaum Mukmin mendapatkan dua hal yaitu menambah iman dan mendapat kabar gembira. Sedangkan kaum munafik mendapatkan dua musibah: semakin bertambah kekufuran mereka di samping kekufuran dasarnya. Dan bahwa mereka mati dalam keadaan kafir.

Dari penggalan ayat di atas [maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?”] bisa disimpulkan bahwa kaum munafik selalu memeriksa sesama mereka, agar siraman cahaya iman tidak menyelinap ke hati mereka. Terutama para dedengkot munafik dan kekafiran, mereka tidak hanya membiarkan bawahannya sekedar jatuh dalam kesesatan belaka, akan tetapi terus mencuci otak dan memantau mereka agar terus berkutat dalam kesesatannya. Meski berbagai musibah menimpa kaum munafik, namun itu semua tidak juga membuat mereka jera dan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla. Mereka sama sekali tidak bisa mengambil pelajaran dan tidak bisa membuka celah hati mereka untuk menerima cahaya iman. Mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat syar’iyyah yaitu al-Quran, tidak juga ayat-ayat kauniyyah yang mereka saksikan dan alami.

Penyebab bertenggernya tabiat ini tidak lain karena ada penyakit di hati mereka dan ada ketimpangan dalam keyakinan mereka. Mereka kaitkan semua kejadian dan peristiwa pada sebab-sebab alamiah semata. Telah hilang dari jiwa mereka kesadaran imani. Tak tergerak sama sekali untuk bertaubat, bahkan pendahuan taubat pun tidak tampak dari gerak-gerik mereka.

Faktor yang membuat mereka tidak bisa mendulang manfaat dari ayat-ayat-Nya adalah:

Ada penyakit hati, baik kekufuran, keraguan, atau maksiat, baik karena dorongan syahwat ataupun adanya syubhat. Ini bisa dirujuk pada Surat Al-Mâ’idah ayat ke-52.
Cinta dan mengedepankan kesenangan dunia yang akan sirna. Yang membuat para dedengkot kafir Quraisy, termasuk juga Kaisar Raja Romawi, enggan menerima kebenaran tidak lain adalah takut kalau kedudukan dan pangkat mereka sirna. Bisa dilihat pada ayat ke-11 dan ke-12 dari Surat al-Fath.

Semoga Allah memelihara kita dari sifat-sifat busuk ini.

Baarakallaahufikum wassalamu'alaikum warahmatullahi wabaarakatuh.

🌴🌴🌴🌴🌴💐💐💐💐💐🌼🌼🌼🌼🌼

Footnote... ✍

[1] At-Tafsîr Al-Kabîr 8/122, Mufradât Alfâzhil Qur’ân Al-Karîm, 222, Irsyâd Al-`Aql As-Salîm 4/78.

[2] Ad-Durrul Mantsûr 4/231.

[3] Majmû` Al-Fatâwâ 7/639.

[4] Majmû` Al-Fatâwâ 7/194.

[5] HR. At-Tirmidzi bab Kesudahan orang yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, no. 2414 dari Aisyah Radhiyallahu anhuma.

[6] Al-Mufradât pada kata nasiya, hlm. 803.

[7] Mafâtîhul Ghaib, 16/129.

[8] Lihat Tafsîrul Qur`ânil `Azhîm 2/368.

[9] Lihat Al-Jawâb Al-Kâfî, 118.

[10] Lihat Tafsîr ath-Thabari 11/507. Asal hadits ini diriwayatkan al-Bukhârî dalam kitab manâqib no 3610, juga Muslim kitab az-zakât no 2456.

[11] Lihat Fathul Majîd Syarh Kitabut-Tauhid, hlm. 350-360.

[12] Lihat: Mafhûm Tajdîd Ad-Dîn 281.

[13] Lihat Taisîrul Azîzil Hamîd, hlm. 500.

[14] Ad-Durrul Mantsûr 4/227.

[15] Lihat: Tafsîr Ath-Thabari 11/537, Al-Muharrar al-Wajîz 3/53, Tafsir Ibnu Katsir 4/110.

[16] Tafsîr Ath-Thabari, 11/543.

[17] Lihat Taisîr al-Karîmir Rahmân 3/260; yaitu dalam rangkaian ayat ke-64 sampai 66 dari Surat at-Taubah.

[18] Inilah madzhab ahlussunnah wal jama’ah dan yang dipegangi salaf umat ini. Ini yang shahih yang ditunjukkan berbagai nash. Lain dengan yang dipegang muktazilah dan khawarij.

Selasa, 16 Mei 2017

Tanda-tanda Kiamat

A.👉LENYAPNYA ORANG-ORANG SHALIH

Di antara tanda-tanda Kiamat adalah lenyapnya orang-orang shalih, sedikitnya orang-orang pilihan, dan banyaknya kejahatan sehingga yang ada hanyalah seburuk-buruknya manusia, kepada merekalah Kiamat akan datang.
Dijelaskan dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻻَ ﺗَﻘُﻮﻡُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﺧُﺬَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺷَﺮِﻳﻄَﺘَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍْﻷَﺭْﺽِ ﻓَﻴَﺒْﻘَﻰ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻋَﺠَﺎﺟَﺔٌ ﻻَ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻮﻥَ ﻣَﻌْﺮُﻭﻓًﺎ ﻭَﻻَ ﻳُﻨْﻜِﺮُﻭﻥَ ﻣُﻨْﻜَﺮًﺍ .

‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga Allah mengambil orang-orang baik dari penduduk bumi, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang jelek, mereka tidak mengetahui yang baik dan tidak mengingkari yang munkar.’”[1]

Maknanya bahwa Allah akan mewafatkan orang-orang baik dan para ulama, lalu yang tersisa hanyalah orang-orang jelek yang tidak ada kebaikan di dalam diri mereka. Hal ini terjadi ketika ilmu diambil sementara manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin yang memberikan fatwa tanpa ilmu.
Dan diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya Radhiyallahu anhum, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

ﻳَﺄْﺗِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻳُﻐَﺮْﺑَﻠُﻮﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﻏَﺮْﺑَﻠَﺔً ﻳَﺒْﻘَﻰ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺣُﺜَﺎﻟَﺔٌ ﻗَﺪْ ﻣَﺮِﺟَﺖْ ﻋُﻬُﻮﺩُﻫُﻢْ ﻭَﺃَﻣَﺎﻧَﺎﺗُﻬُﻢْ ﻭَﺍﺧْﺘَﻠَﻔُﻮﺍ ﻓَﻜَﺎﻧُﻮﺍ ﻫَﻜَﺬَﺍ ﻭَﺷَﺒَّﻚَ ﺑَﻴْﻦَ ﺃَﺻَﺎﺑِﻌِﻪِ .

“Akan datang pada manusia suatu zaman di mana mereka akan dipilih,
hingga yang tersisa dari mereka hanyalah orang-orang yang hina, perjanjian-perjanjian dan amanah mereka telah bercampur (tidak menentu), dan mereka berselisih, maka mereka seperti ini.” Beliau merenggangkan jari-jemarinya (menunjukkan keadaan mereka yang saling bermusuhan-ed.).”[2]

Lenyapnya orang-orang shalih terjadi ketika banyaknya kemaksiatan, dan ketika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan. Karena, jika orang-orang shalih melihat kemunkaran, lalu mereka tidak merubahnya dan kerusakan semakin banyak, maka siksaan akan turun kepada mereka semua, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:

ﺃَﻧَﻬْﻠِﻚُ ﻭَﻓِﻴﻨَﺎ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤُﻮﻥَ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺜُﺮَ ﺍﻟْﺨَﺒَﺚُ .

“Apakah kami akan binasa sementara orang-orang shalih masih ada di antara kami?” Beliau menjawab, “Betul, ketika kemaksiatan merajalela.” [HR, Al-Bukhari][3]

B.👉ORANG-ORANG HINA DIANGKAT SEBAGAI PEMIMPIN

Di antara tanda-tandanya adalah orang-orang hina diangkat sebagai pemimpin dan lebih mempercayakan mereka melebihi orang-orang terbaik mereka. Sehingga segala urusan masyarakat berada di tangan orang-orang bodoh dan hina yang tidak ada kebaikan di dalam diri mereka. Ini adalah keterbalikan fakta dan berubahnya keadaan. Dan ini yang terjadi dan dapat kita saksikan di zaman ini. Anda bisa melihat bahwa kebanyakan pemimpin masyarakat juga dewan pertimbangan mereka adalah orang yang sangat rendah keshalihan dan keilmuannya. Padahal, semestinya orang-orang yang beragama dan bertakwalah yang lebih diutamakan dari selain mereka dalam menang-gung urusan masyarakat. Karena manusia yang paling mulia adalah orang-orang yang memiliki agama dan ketakwaan, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ

“… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” [Al-Hujuraat: 13]
Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempercayakan berbagai wilayah dan urusan manusia hanya kepada orang yang paling shalih dan paling berilmu. Demikian pula yang dilakukan para khalifah sepeninggal beliau. Contoh-contoh dalam masalah ini sangat banyak, di antaranya apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penduduk Najran:

َﻷَﺑْﻌَﺜَﻦَّ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﺟُﻼً ﺃَﻣِﻴﻨًﺎ ﺣَﻖَّ ﺃَﻣِﻴﻦٍ، ﻓَﺎﺳْﺘَﺸْـﺮَﻑَ ﻟَﻪُ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺒَﻌَﺚَ ﺃَﺑَﺎ ﻋُﺒَﻴْﺪَﺓَ .

“Sungguh aku akan mengutus kepada kalian seorang yang benar-benar terpercaya,” lalu para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikannya, lalu beliau mengutus Abu ‘Ubaidah.[1]

Berikut ini sebagian hadits yang menunjukkan diangkatnya orang-orang hina sebagai pemimpin, dan hal itu merupakan tanda-tanda Kiamat.
Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﺳَﺘَﺄْﺗِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺳِﻨُﻮﻥَ ﺧَﺪَّﺍﻋَﺔٌ، ﻳُﺼَﺪَّﻕُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﺫِﺏُ، ﻭَﻳُﻜَﺬَّﺏُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕُ، ﻭَﻳُﺆْﺗَﻤَﻦُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟْﺨَﺎﺋِﻦُ، ﻭَﻳُﺨَﻮَّﻥُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍْﻷَﻣِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻨْﻄِﻖُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﻟﺮُّﻭَﻳْﺒِﻀَﺔُ، ﻗِﻴﻞَ : ﻭَﻣَـﺎ ﺍﻟﺮُّﻭَﻳْﺒِﻀَﺔُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺍﻟﺴَّﻔِﻴﻪُ ﻳَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣَّﺔِ .

“Sesungguhnya akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan, seorang pembohong dibenarkan dan seorang yang jujur dianggap berbohong, seorang pengkhianat dipercaya dan seseorang yang dipercaya dianggap khianat, dan saat itu Ruwaibidhah [2] akan berbicara.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” [3]
Dan di dalam hadits Jibril yang panjang diungkapkan:

ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺳَﺄُﺣَﺪِّﺛُﻚَ ﻋَﻦْ ﺃَﺷْـﺮَﺍﻃِﻬَﺎ … ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﻌُﺮُﺍﺓُ ﺍﻟْﺤُﻔَﺎﺓُ ﺭُﺅُﻭْﺱَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ، ﻓَﺬَﺍﻙَ ﻣِﻦْ ﺃَﺷْﺮَﺍﻃِﻬَﺎ .

“Akan tetapi akan aku kabarkan kepadamu tanda-tandanya… yaitu jika orang yang telanjang tanpa alas kaki menjadi pemimpin manusia, maka itulah di antara tanda-tandanya.” [4]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣِﻦْ ﺃَﺷْﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ : ﺃَﻥْ ﻳَﻐْﻠِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟُﻜَﻊُ ﺍﺑْﻦُ ﻟُﻜَﻊٍ ﻓَﺨَﻴْﺮُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ ﺑَﻴْﻦَ ﻛَﺮِﻳْﻤَﻴْﻦِ .

‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah orang-orang bodoh menguasai dunia, maka manusia yang paling baik ketika itu adalah seorang mukmin di antara dua orang mulia.’”[5]
Dijelaskan dalam sebuah hadits shahih:

ﺇِﺫَﺍ ﺃُﺳْﻨِﺪَ ﺍْﻷَﻣْﺮُ ﺇِﻟَﻰ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻓَﺎﻧْﺘَﻈِﺮِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ .

“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat.” [6]
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

ﻣِﻦْ ﺃَﺷْﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ … ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﻠُﻮَ ﺍﻟﺘُّﺤُﻮْﺕُ ﺍﻟْﻮَﻋُﻮْﻝَ، ﺃَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻳَﺎ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑْـﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮْﺩٍ ﺳَﻤِﻌْﺘَﻪُ ﻣِﻦْ ﻧَﺒِﻲٍّ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ، ﻭَﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﺔِ . ﻗُﻠْﻨَـﺎ : ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﺘُّﺤُﻮْﺕُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻓُﺴُـﻮْﻝُ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ، ﻭَﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖِ ﺍﻟْﻐَﺎﻣِﻀَﺔِ ﻳُﺮْﻓَﻌُﻮْﻥَ ﻓَﻮْﻕَ ﺻَﺎﻟِﺤِﻴْﻬِﻢْ . ﻭَﺍﻟْﻮَﻋُﻮْﻝُ : ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔ .ُ

“Di antara tanda-tanda Kiamat… at-Tuhuut ada di atas al-Wa-’uul”, apakah demikian kamu mendengarnya diri Nabi wahai ‘Abdullah bin Mas’ud?” Beliau menjawab, “Betul, demi Rabb Ka’bah,” kami bertanya, “Apakah at-Tuhuut itu?” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang hina, dan orang dusun yang diangkat di atas orang-orang shalih, sementara al-Wa’uul adalah penghuni rumah yang shalih.” [7]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻻَ ﺗَﺬْﻫَﺐُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺼِﻴﺮَ ﻟِﻠُﻜَﻊِ ﺍﺑْﻦِ ﻟُﻜَﻊٍ .

“Tidak akan lenyap dunia sehingga orang-orang pandir menguasainya.” [8]

Maknanya adalah sehingga kenikmatan, kelezatan, dan kehormatan mengarah kepadanya.[9]

Dan dalam riwayat Imam Ahmad dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻻَ ﺗَﻘُﻮﻡُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺃَﺳْﻌَﺪَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺑِﺎﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟُﻜَﻊُ ﺍﺑْﻦُ ﻟُﻜَﻊٍ .

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga manusia yang paling berbahagia dengan dunia adalah orang-orang pandir.” [10]

Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu yang beliau riwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hilangnya amanah:

ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻘَﺎﻝَ ﻟِﻠﺮَّﺟُﻞِ : ﻣَﺎ ﺃَﺟْﻠَﺪَﻩُ ! ﻣَﺎ ﺃَﻇْﺮَﻓَﻪُ ! ﻣَﺎ ﺃَﻋْﻘَﻠَﻪُ ! ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺣَﺒَّﺔٍ ﻣِﻦْ ﺧَﺮْﺩَﻝٍ ﻣِﻦْ ﺇِﻳْﻤَﺎﻥٍ .

“Sehingga dikatakan kepada seseorang, ‘Sungguh kuat! Sungguh cerdas! Dan sungguh cerdik!’ Sementara tidak ada keimanan seberat biji sawi pun.” [11]

Inilah kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin pada zaman sekarang ini. Mereka berkata kepada seseorang, “Sungguh cerdas! Sungguh baik akhlaknya!” mereka mensifati dengan sifat-sifat yang paling indah, padahal mereka adalah manusia paling fasik, paling sedikit agama juga amanahnya. Bisa jadi sebenarnya dia musuh bagi kaum muslimin dan selalu berusaha untuk menghancurkan Islam. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

C.👉UCAPAN SALAM HANYA DITUJUKAN KEPADA ORANG YANG DIKENAL

Dan di antara tanda-tanda Kiamat adalah seseorang hanya mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya. Dijelaskan di dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺃَﺷْﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺃَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻻَ ﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺇِﻻَّ ﻟِﻠْﻤَﻌْﺮِﻓَﺔِ .

‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah seseorang mengucap-kan salam kepada yang lainnya, dia mengucapkan salam kepadanya hanya dengan sebab kenal.” [HR. Ahmad][1]
Dalam riwayat beliau pula:

ﺇِﻥَّ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺗَﺴْﻠِﻴﻢَ ﺍﻟْﺨَﺎﺻَّﺔِ .

“Sesungguhnya menjelang hari Kiamat akan ada pengucapan salam kepada orang-orang tertentu.”[2]

Hal ini dapat kita saksikan sekarang. Banyak orang yang mengucapkan salam hanya kepada orang yang mereka kenal. Tentu saja hal ini bertentangan dengan Sunnah, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk mengucapkan salam kepada orang yang Anda kenal atau tidak Anda kenal. Sesungguhnya hal itu merupakan sebab tersebarnya kecintaan di antara kaum muslimin yang pada akhirnya sebagai sebab keimanan yang dapat mengantarkannya ke Surga. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻻَ ﺗَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﻭَﻻَ ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺤَﺎﺑُّﻮﺍ، ﺃَﻭَﻻَ ﺃَﺩُﻟُّﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﺇِﺫَﺍ ﻓَﻌَﻠْﺘُﻤُﻮﻩُ ﺗَﺤَﺎﺑَﺒْﺘُﻢْ؟ ﺃَﻓْﺸُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ .

‘Kalian tidak akan masuk Surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.’” [HR. Muslim][3]

Allahu a'lam.

*************************

_______
Footnote A.👇

[1]. Musnad Ahmad (XI/181-182), syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
Dan Mustadrak al-Hakim (IV/435), al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits shahih dengan syarat asy-Syaikhani, jika al-Hasan mendengarkannya dari ‘Abdullah bin ‘Amr.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[2]. Musnad Ahmad (XII/12), syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
Dan Mustadrak al-Hakim (IV/435), al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih akan tetapi kedua-nya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[3]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Qaulin Nabiyyi J Wailun lil ‘Arab min Syarrin Qadiqtaraba (XIII/11, al-Fat-h).

_____
Footnote B.👇

[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab Akhbaarul Aahaad, bab Maa Jaa-a fii Ijaazati Khabaril Waahidish Shadiq (XIII/232, dalam al-Fat-h).
[2]. ﺍﻟﺮُّﻭَﻳْﺒِﻀَﺔُ diungkapkan tafsirannya di dalam matan hadits, yaitu orang bodoh. Dan ﺍﻟﺮُّﻭَﻳْﺒِﻀَﺔُ bentuk tashgiir dari kata (ﺍَﻟﺮَّﺍﺑِﻀَﺔُ ), ia adalah orang-orang lemah yang diam tidak bisa melakukan hal-hal mulia, duduk tidak mencarinya dan orang yang hina tidak ada artinya.
Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/185).

[3]. Musnad Imam Ahmad (XV/37-38), syarh dan ta’liq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya hasan, dan matannya shahih.”
Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah sanad yang jayyid, dan mereka tidak meriwayatkannya dari jalan ini.” (An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/181). Tahqiq Dr. Thaha Zaini.

[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Bayaanul Iimaan wal Islaam wal Ihsaan (I/163, Syarh an-Nawawi).

[5]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dengan dua sanad, dan para perawi salah satu dari keduanya tsiqah.” Majma’uz Zawaa-id (VII/325).

[6]. Shahiihul Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Raf’ul Amaanah (XI/332, al-Fat-h).

[7]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dengan dua sanad, dan perawi salah satunya adalah tsiqah.” (Majma’uz Zawaa-id VII/325)

[8]. Musnad Imam Ahmad (XVI/284, syarah dan tahqiq Ahmad Syakir), beliau berkata, “Diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam al-Jaami’ush Shaghiir dan beliau memberikan lambang bahwa hadits tersebut hasan.” Al-Jaami’ush Shaghiir (II/200, dengan catatan pinggir Kunuuzul Haqaa-iq, karya al-Manawi).
Al-Haitsami berkata, “Perawi Ahmad adalah perawi ash-Shahiih, selain Kamil bin al-‘Ala, dia adalah tsiqah.” Majma’uz Zawaa-id (VII/220).
Ibnu Katsir berkata, “Sanadnya jayyid dan kuat.” An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/181) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/142) (no. 7149).

[9]. Lihat kitab Faidhul Qadiir Syarh al-Jaami’ish Shagiir (V/394), karya ‘Abdurrauf al-Manawi.

[10]. Musnad Imam Ahmad (V/389, Muntakhab Kanzul ‘Ummal), as-Suyuthi memberikan tanda dalam kitab al-Jaami’ush Shaghiir bahwa hadits tersebut shahih (II/202, Kunuuzul Haqaa-iq, karya al-Manawi).
Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/177) (no. 7308).

[11]. Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Raf’ul Amaanah (XI/333, al-Fat-h), Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Raf’ul Amaanah wal Iimaan min ba’dil Quluub (II/167-170, Syarh an-Nawawi).

________
Footnote C.👇

[1]. Musnad Ahmad (V/326), Ahmad Syakir berkata, “Isnadnya shahih.”
[2]. Musnad Ahmad (V/333), Ahmad Syakir berkata, “Isnadnya shahih.”
Al-Albani berkata, “Sanad ini shahih dengan syarat Muslim.” Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (II/251) (no. 647).
[3]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Bayaan Annahu la Yadkhulul Jannata Illal Mukminun (II/35, Syarh Muslim).

Apa Alasanku Untuk Tidak berayukur?

Bismillaahirrohmaanirrohiim.. وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُوْنَ   “Dan seg...