Telusuri

Senin, 08 Mei 2017

TIDAK MUNGKIN BERIMAN KECUALI DENGAN IZIN ALLAH

TIDAK MUNGKIN BERIMAN KECUALI DENGAN IZIN ALLAH

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ ﴿٩٩﴾وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ  الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu telah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya, maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allâh. Dan Allâh menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. [Yûnus/10:99-100]

TAFSIR RINGKAS

“Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu telah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya,” 

maksudnya seandainya Allâh Azza wa Jalla menghendaki orang-orang musyrik itu beriman, maka mereka semuanya akan beriman. Ayat ini juga sebagai bentuk hiburan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meringankan kepedihan dan kesedihan yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam rasakan karena kaumnya tidak beriman, padahal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mendoakan mereka dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat siang dan malam. Allâh Azza wa Jalla  memberitahukan kepada Beliau, jika Allâh Azza wa Jalla menghendaki maka seluruh penduduk bumi menjadi orang yang beriman. Akan tetapi, permasalahan keimanan adalah permasalahan yang berhubungan dengan pembebanan syariat (taklîf), yang berkonsekuensi adanya balasan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menawarkan kepada manusia untuk beriman, hanya sebagai sebuah tawaran dan bukan paksaan. Barangsiapa beriman maka dia akan beruntung dan barangsiapa tidak beriman maka dia akan binasa. Yang membuktikan hal ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla : “Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” maksudnya, ini bukan tanggung jawab yang dibebankan kepadamu.

“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allâh.” Ini adalah penegasan terhadap apa yang disebutkan sebelumnya bahwa keimanan tidak akan sempurna pada seseorang kecuali hal tersebut berdasarkan kehendak dan taqdîr Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

“Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya,” maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengajak manusia untuk beriman dan juga menjelaskan kepada mereka buah-buah keimanan yang baik dan Allâh memperingatkan kepada mereka dari perbuatan mendustakan-Nya dengan menjelaskan dampak-dampak buruknya. Barangsiapa beriman, maka dia akan terselamatkan dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikannya bahagia. Barangsiapa tidak beriman, Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan timpakan kemurkaan kepadanya, yang berupa azab yang meliputinya sebagai bentuk balasan atas perbuatan mereka yang tidak mempergunakan akalnya.[1]

PENJABARAN AYAT

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا

Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu telah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.

Allâh Azza wa Jalla  menyebutkan bahwa kalau Allâh Azza wa Jalla menghendaki maka seluruh manusia menjadi orang yang beriman, tetapi pada kenyataannya Allâh Azza wa Jalla menjadikan sebagian manusia beriman dan sebagiannya lagi tidak beriman.

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Ayat ini sebagai bentuk hiburan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena Beliau sangat bersemangat untuk menjadikan manusia beriman seluruhnya. Kemudian Allâh Azza wa Jalla mengabarkan kepadanya bahwa tidaklah seseorang beriman kecuali orang yang telah Allâh Azza wa Jalla tetapkan baginya kebahagiaan dan tidaklah seseorang sesat kecuali yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya kesengsaraan.”[2]

Imam Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengingatkan nabinya, ‘Dan jikalau Rabb-mu menghendaki’ wahai Muhammad, ‘tentu telah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya’ kepadamu, dan mereka akan membenarkanmu sebagai utusan-Ku. Dan mereka juga akan membenarkan apa-apa yang engkau bawa dan yang engkau dakwahkan kepada mereka berupa tauhid kepada Allâh dan agar mereka ikhlash beribadah untuk-Nya. Itu haq (benar), akan tetapi Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak menginginkan hal tersebut, karena telah didahului oleh ketetapan (taqdîr) Allâh sebelum Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengutusmu sebagai seorang rasul, bahwasanya orang tersebut tidak akan beriman kepadamu.

Tidak ada orang-orang yang mengikutimu dan membenarkan petunjuk dan cahaya yang Allâh utus engkau untuk membawanya, kecuali orang tersebut telah dicatat kebahagiaan untuknya di dalam kitab yang pertama (al-Lauhul Mahfûzh) sebelum diciptakannya langit-langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya.[3]

INGATLAH BAHWA HIDAYAH ITU DI TANGAN ALLAH

Kita harus memahami bahwa seorang masuk ke dalam agama Islam adalah berdasarkan hidayah dari Allâh. Apabila Allâh Azza wa Jalla menginginkan maka orang tersebut akan masuk Islam dan jika Allâh Azza wa Jalla tidak menginginkan maka tidak mungkin bisa dia masuk ke dalam agama Islam.

Allâh Azza wa Jalla  berfirman:

كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ 

Seperti itulah Allâh menyesatkan orang-orang yang dikehendakinya dan memberi petunjuk siapa saja yang dikehendakinya. [Al-Muddatstsir/74:31]

Allâh Azza wa Jalla telah memberikan hujjah dan keterangan yang jelas kepada seluruh manusia. Seandainya seluruh manusia dijadikan beriman atau sebaliknya, maka Allâh Maha Mampu untuk melakukannya. Akan tetapi, sudah menjadi ketetapan Allâh Azza wa Jalla bahwa di antara manusia ada yang beriman dan ada yang kafir. Allâh Azza wa Jalla tidak ditanya atas apa yang Allâh lakukan tetapi merekalah yang akan ditanya atas apa yang mereka lakukan.

Adapun hidayah at-tablîgh (menyampaikan), hidayah al-bayân (menjelaskan) atau hidayah ad-dakwah (berdakwah) maka ini adalah tugas dari para rasul dan para da’i. Mereka dibebankan untuk selalu berdakwah, tetapi hasilnya adalah terserah Allâh.

Allâh Azza wa Jalla  berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allâh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allâh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [Al-Qashash/28:56]

Begitu pula dalam ayat lain, semisal dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat ke-272.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

 Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

Allâh Azza wa Jalla  menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa memaksakan apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam inginkan, karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala sudah menetapkan bahwa tetap akan ada orang-orang yang tidak menerima dakwah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Ayat-ayat yang semisal dengan ayat ini

Ada beberapa ayat yang semisal dengan ayat ini, di antaranya adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا ۗ وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allâh menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allâh memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allâh. Sesungguhnya Allâh tidak menyalahi janji. [Ar-Ra’d/13:31]

Juga firman-Nya:

إِنْ تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allâh tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. [An-Nahl/16:37]

Ikhlas Dan Berhasil Dalam Berdakwah Bukan Ditentukan Dengan Jumlah Pengikut

Banyak yang salah paham dalam menilai keberhasilan dakwah seseorang. Banyak yang menilai hanya dengan banyaknya pengikut yang memenuhi ajakan orang tersebut. Padahal seseorang dinilai berhasil dalam berdakwah oleh Allâh, apabila dia berdakwah ikhlas hanya untuk Allâh, bukan untuk meninggikan namanya, mendapatkan kedudukan, mencari dunia atau berbangga dengan banyaknya jumlah pengikut, serta dia berdakwah dengan menggunakan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah.

Ada Nabi yang sangat ikhlas dalam berdakwah tetapi mereka hanya memiliki beberapa pengikut dan ada Nabi yang tidak memiliki pengikut. Apakah kita katakan bahwa mereka tidak berhasil di dalam berdakwah? Mereka telah berdakwah dengan cara terbaik, hanya saja Allâh Azza wa Jalla tidak menginginkan mereka memiliki banyak pengikut. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَم فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلاَنِوَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Ditampakkan kepadaku umat-umat, kemudian lewatlah seorang nabi yang bersamanya hanya satu orang, seorang nabi yang bersamanya dua orang, seorang nabi yang bersamanya beberapa orang dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya.[4]

Kita semua mengetahui bahwa seluruh nabi adalah utusan Allâh dan mereka orang-orang terbaik pilihan Allâh Azza wa Jalla . Tentu kita yakin mereka berdakwah ikhlash hanya untuk Allâh Azza wa Jalla . Meskipun demikian, ternyata ada juga nabi yang hanya memiliki sedikit pengikut bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut. Dan ini menjadi pelajaran untuk para da’i atau orang-orang yang mengajak manusia kepada kebaikan dan melarang manusia dari perbuatan mungkar untuk bisa ikhlas dan tidak merasa sakit hatinya jika dakwahnya tidak diterima oleh masyarakat, serta tidak berbangga dengan banyaknya pengikutnya.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allâh.”

 Arti ‘illaa biidznillaah‘ (dengan izin Allâh) menurut Ibnu Abbas z adalah dengan perintah Allâh; Menurut ‘Atha’ rahimahullah adalah dengan kehendak Allâh; Dan disebutkan pendapat lain yaitu dengan ilmu Allâh.[5] Sedangkan menurut Sufyan ats-Tsauri rahimahullah artinya adalah dengan qadha’ Allâh (taqdîr Allâh).[6]

Kesemuanya bermakna satu, yaitu seseorang tidak mungkin beriman kecuali Allâh Subhanahu wa Ta’ala berkehendak dan taqdirkan dia sebagai seorang Muslim.

FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN HIDAYAH BISA BISA DITERIMA OLEH SESEORANG

Imam asy-Syathibi rahimahullah mengatakan, “Jika faktor-faktor penyebabnya belum dilakukan sebagaimana mestinya, tidak sempurna juga syarat-syaratnya dan penghalang-penghalangnya tidak dihilangkan, maka hasil-hasil (yang diinginkan) tidak akan terwujud, suka atau tidak suka. Karena hasil-hasil tersebut bisa terwujud atau tidak bisa terwujud bukan atas pilihannya. Dan juga, asy-Syâri’ (Pembuat syariat) tidak menjadikan sebab-sebab itu untuk mendapatkan hasil-hasil kecuali bersamaan dengan adanya syarat-syarat dan hilangnya penghalang-penghalang. Apabila belum terpenuhi maka sebab tidak akan sempurna untuk menjadi sebab syar’i, sama saja, apakah kita mengatakan bahwa kelengkapan syarat dan hilangnya penghalang adalah bagian dari sebab ataukan bukan, maka (yang terpenting) hasilnya adalah sama.”[7]

Maksud dari perkataan beliau adalah meskipun seseorang sudah menjalankan atau mengerjakan seluruh sebab dalam berdakwah, tetapi ternyata syarat-syarat bagi orang yang didakwahi belum terpenuhi dan terdapat penghalang-panghalang untuk orang yang didakwahi tersebut untuk menerima Islam, maka orang tersebut tidak akan memeluk agama Islam.

Tidakkah kita mendengar firman Allâh Azza wa Jalla :

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allâh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. [Fâthir/35:8]

ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA TELAH MENTAQDIRKAN PENGHUNI SURGA DAN PENGHUNI NERAKA

Allâh Azza wa Jalla sudah mentaqdirkan siapa saja yang akan masuk ke dalam surga dan siapa saja yang akan masuk ke dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنْ عَلِيٍّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كُنَّا فِي جَنَازَةٍ فِي بَقِيعِ الْغَرْقَدِ فَأَتَانَاالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَعَدَ وَقَعَدْنَا حَوْلَهُ … قَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدمَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلاَّ قَدْ كُتِبَ شَقِيَّةً، أَوْ سَعِيدَةً فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَفَمَنْ كَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْكَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ قَالَ أَمَّا أَهْلُالسَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِالشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى} الآيَةَ.

Diriwayatkan dari ‘Ali Radhiyallahu anhu bahwasanya dia berkata, “Dulu kami sedang mengurus jenazah di (kuburan) Baqi’ al-Gharqad, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan Beliau duduk dan kami pun duduk semuanya di sekitar Beliau … Beliau berkata, ‘Tidak ada di antara kalian dari jiwa yang ditiupkan (ruh) kecuali dia telah dicatat tempatnya, apakah nanti dia di surga ataukah di neraka dan telah dicatat juga apakah dia sengsara ataukah bahagia.’ Kemudian berkatalah seorang laki-laki, ‘Apakah kami bergantung dengan catatan kami dan kami meninggalkan amalan? Barangsiapa di antara kami termasuk golongan yang bahagia maka dia akan beramal dengan amalan golongan yang bahagia. Dan barangsiapa di antara kami termasuk golongan yang sengsara, maka dia akan beramal dengan amalan golongan orag yang sengsara?’ Beliau berkata, ‘Adapun orang yang berbahagia maka akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan golongan yang berbahagia dan orang yang sengsara ​maka akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan golongan yang sengsara.’ Kemudian beliau membaca: ‘Adapun orang yang memberikan dan bertakwa …'(Ayat).”[8]

Di dalam riwayat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan hadits qudsi:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى يَا آَدَمُ فَيَقُولُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ فَيَقُولُأَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ قَالَ وَمَا بَعْثُ النَّارِ قَالَ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَمِئَةٍ وَتِسْعَةًوَتِسْعِينَ فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَسُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللهِ شَدِيدٌ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِوَأَيُّنَا ذَلِكَ الْوَاحِدُ قَالَ أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلٌ وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفٌثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَافَقَالَ أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَا فَقَالَ أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَأَهْلِ الْجَنَّةِ فَكَبَّرْنَا فَقَالَ مَا أَنْتُمْ فِي النَّاسِ إِلاَّ كَالشَّعَرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِثَوْرٍ أَبْيَضَ ، أَوْ كَشَعَرَةٍ بَيْضَاءَ فِي جِلْدِ ثَوْرٍ أَسْوَدَ

Allâh Azza wa Jallaberfirman, ‘Wahai Adam!’ Kemudian Adam berkata, ‘Labbaika wa sa’daika! Kebaikan berada di tangan-Mu.’ Allâh pun berkata, ‘Pisahkanlah penghuni-penghuni neraka!’ Adam berkata, ‘Siapakah penghuni-penghuni neraka itu?’ Allâh berkata, ‘Di setiap 1000 orang ada 999 orang.’ Itu adalah ketika anak kecil akan beruban, setiap wanita hamil akan keguguran dan kamu melihat menusia seolah-olah mabuk, padahal mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allâhlah yang sangat pedih.”

Para Sahabat pun berkata, “Ya Rasûlullâh! Siapakah di antara kami satu orang tersebut?” Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bergembiralah kalian. Sesungguhnya dari setiap orang dari kalian, maka dari Ya’juuj dan Ma’juuj ada seribu orang.” Kemudian Beliau berkata, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya saya berharap kalian menjadi seperempat ahli surga.” Kemudian kami pun bertakbir (Allaahu akbar). Kemudian beliau berkata, “Saya berharap agar kalian menjadi sepertiga ahli surga.” Kemudian kami pun bertakbir. Kemudian beliau pun berkata, “Saya berharap kalian menjadi setengah dari seluruh penghuni surga.” Beliau berkata, “Tidaklah jumlah kalian, kecuali seperti satu rambut hitam di kulit sapi jantan yang putih atau seperti rambut putih di kulit sapi jantan yang hitam.”[9]

Firman Allâh Ta’ala:

وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Dan Allâh menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Adapun perkataan Allâh Subhanahu wa Ta’ala, “dan Allâh menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya,’ sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla mengatakan bahwa sesungguhnya Allâh memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendakinya untuk beriman kepadamu wahai Muhammad dan memberi izin kepadamu untuk membenarkanmu, sehingga dia bisa membenarkan dan mengikutimu serta mengakui apa-apa yang engkau bawa dari sisi Rabb-mu.

‘Dan Allâh menimpakan ar-rijs (kemurkaan),’ maksudnya adalah azab dan kemarahan Allâh ‘kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya,’ maksudnya adalah orang-orang yang tidak memahami hujjah–hujjah (dalil-dalil) dari Allâh, begitu pula pelajaran-pelajaran dan ayat-ayatnya yang Allâh tunjukkan kepada kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hakikat yang beliau serukan berupa tauhid dan berlepas dari seluruh saingan-saingan dan berhala-berhala.”[10]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengartikan ar-rijs dengan al-khabâl (kekurangan/kehancuran) dan adh-dhalâl (kesesatan).[11] Allâhu a’lam bishshawâb.

BERSYUKURLAH ATAS KENIKMATAN HIDAYAH ISLAM

Sudah sepantasnya kita bersyukur telah memeluk agama Islam, dan sudah sepantasnya kita berharap agar hidayah ini bisa terus diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla sampai kita menghembuskan nafas terakhir. Dan sudah sepantasnya kita selalu berharap kepada Allâh Azza wa Jalla untuk selalu bisa beristiqâmah menjalan perintah-perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangannya. Mudah-mudahan Allâh mematikan kita semua dalam keadaan mati yang baik (husnul-khaatimah). Dan mudahan bermanfaat. Amin.

KESIMPULAN

Jika Allâh Azza wa Jalla berhehendak maka seluruh manusia akan beriman, tetapi Allâh tidak menghendakinya.Tidak ada kewajiban untuk para nabi dan para da’i untuk mengislamkan seluruh manusia, tetapi mereka wajib berdakwah dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .Hidayah berada di tangan Allâh dan Allâh Azza wa Jalla sudah tetapkan siapa saja yang akan menjadi orang yang bahagia dan memeluk Islam dan siapa saja orang yang sengsara dan tetap dalam kekufurannya.Allâh akan mengazab orang-orang yang ingkar kepada-Nya.Seorang Muslim wajib bersyukur atas hidayah Islam dan harus selalu berharap untuk bisa beristiqamah di jalan Allâh ta’ala.

DAFTAR PUSTAKA

Aisarut Tafâsîr li Kalâm ‘Aliyil Kabîr wa bihaamisyihi Nahril-Khair ‘Ala Aisarit-Tafaasiir. Jaabir bin Musa Al-Jazaairi. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikamAl-Jâmi’ Li Ahkâmil Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.Al-Muwafaqaat. Ibrahim bin Musa bin Muhammad bin Al-Lakhmi Asy-Syathibi. Kairo: Dar Ibni ‘Affan.Jâmi’ul Bayân fi Ta’wîlil Qur’ân. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis-Sunnah Wal-Jama’ah Minal-Kitab Was-Sunnah Wa Ijma’ ash-Shahâbah. Hibatullah bin Al-Hasan bin Manshur Al-Laalakaa-i Abul-Qasim. Ar-Riyadh: Dar Ath-Thaibah.Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzhî Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.

_______
Footnote
[1]. Lihat Aisar At-Tafâsîr, hlm. 624-625.

[2]. Tafsir al-Baghawi IV/153.

[3]. Tafsir Ath-Thabari XV/211.

[4]. HR. Al-Bukhâri, no. 5752 dan Muslim, no. 220.

[5]. Tafsir Al-Baghawi, IV/153.

[6]. Tafsir At-Thabari, XV/214.

[7].  Al-Muwâfaqât Lisy-Syâthibi 1/345.

[8]. HR. Al-Bukhâri, no. 1362 dan Muslim, no. 2647.

[9]. HR. Al-Bukhâri, no. 3348 dan Muslim, no. 222.

[10]. Tafsir ath-Thabari, XV/214.

[11]. Tafsir Ibni Katsir, IV/298.

Sabtu, 06 Mei 2017

HADITS LEMAH TENTANG KEUTAMAAN SHAF-SHAF SEBELAH KIRI

HADITS LEMAH TENTANG KEUTAMAAN SHAF-SHAF SEBELAH KIRI
 

     رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رضى اللّه عنهما أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ عَمَّرَ مَيْسَرَةَ الْمَسْجِدِ كُتِبَ لَهُ كِفْلاَنِ مِنَ الأَجْرِ

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memakmurkan (mengisi) sebelah kiri (shaf-shaf) masjid maka akan ditetapkan baginya dua bagian pahala”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Mâjah (1/321, no. 1007) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (11/292) dan al-Mu’jamul Ausath (5/64, no. 4678), dengan sanad mereka berdua dari ‘Amr bin ‘Utsmân al-Kilabi, dari ‘Ubaidullah bin ‘Amr ar-Raqqi, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini adalah hadits yang lemah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Laits bin Abi Sulaim. Riwayat orang ini ditinggalkan karena hafalannya yang sangat buruk[1].

Imam Ahmad berkata, “Laits bin Abi Sulaim, hadits (riwayat)nya guncang (lemah).”

Imam Yahya bin Ma’in berkata, “Dia lemah (riwayat haditsnya)”.

Imam Abu Hâtim ar-Râzi dan Abu Zur’ah ar-Razi berkata, “Tidak perlu menyibukkan diri dengannya, hadits (riwayat)nya guncang.”[2]

Hadits ini dihukumi sebagai hadits lemah oleh Imam al-‘Iraqi[3] dan Imam Ibnu Hajar[4]. Demikian juga al-Bushairi, beliau berkata, “Sanad hadits ini lemah, karena kelemahan Laits bin Abi Sulaim.”[5]

Hadits ini juga dihukumi sebagai hadits lemah oleh Syaikh al-Albani[6], bahkan dinyatakan sebagai hadits palsu oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Bâz.[7]

Kelemahan hadits ini menjadikannya tidak bisa digunakan sebagai argumentasi dan sandaran untuk menetapkan keutamaan berdiri di shaf-shaf sebelah kiri imam ketika shalat berjama’ah.

Bahkan ini bertentangan dengan dalil yang shahih tentang keutamaan shaf sebelah kanan. Dari al-Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Kami (para Sahabat Radhiyallahu anhum) ketika shalat (berjama’ah) di belakang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kami menyukai (berdiri) di sebelah kanan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam …”[8].

Hadits ini menunjukkan keutamaan berdiri di shaf kanan, karena ini perbuatan yang disukai oleh para Sahabat Radhiyallahu anhu, dan mereka tidaklah menyukai sesuatu kecuali karena hal itu dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.[9]

Adapun hadits yang populer tentang keutamaan shaf kanan, yang redaksinya: “Sesungguhnya Allâh dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang yang berdiri di) shaf-shaf sebelah kanan” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain), maka hadits ini adalah hadits yang ganjil (lemah), karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Mu’awiyah bin Hisyam, ada kelemahan dalam riwayatnya[10] dan dalam hadits ini dia menyelisihi rawi-rawi yang lebih tsiqah (terpercaya dan kuat).[11]

Maka kesimpulan urutan keutamaan dalam shaf shalat berjamaah adalah sebagai berikut:

Yang paling utama adalah yang berdiri persis di belakang imam shalat berjama’ah dan ini adalah tempat yang dikhususkan untuk orang-orang yang berilmu dan bisa menggantikan imam ketika dibutuhkan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِيَلِنِيْ مِنْكُمْ أُوْلُوْ الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى

          Hendaknya berdiri (persis) di belakangku orang-orang yang berpikiran matang dan berilmu”[12].

Kemudian shaf pertama sebelah kanan yang terdekat dengan imam, berdasarkan dalil shahih di atas.[13] Selanjutnya shaf pertama sebelah kiri yang terdekat dengan imam, dan demikian seterusnya.Selanjutnya shaf kedua, ketiga dan seterusnya mengikuti shaf yang pertama.

Maka mengisi shaf yang paling utama setelah orang yang berdiri persis di belakang imam shalat adalah yang sebelah kanan, kemudian sebelah kiri dan seterusnya, agar menjadikan shaf benar-benar lurus, rapi dan rapat, sebagimana yang diperintahkan dalam banyak hadits yang shahih.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa (shaf sebelah) kanan lebih utama daripada (shaf sebelah) kiri, ketika shaf seimbang dan rata, adapun ketika (shaf) jauh (dari seimbang) maka sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa (shaf sebelah) kiri yang lebih dekat (ke arah imam shalat) lebih utama[14].

Di tempat lain, beliau rahimahullah berkata, “(Shaf sebelah) kanan tentu lebih utama jika (shaf) seimbang dengan sebelah kiri, adapun jika (shaf sebelah) kiri lebih dekat ke (arah) imam dengan perbedaan yang jelas maka (shaf sebelah) kiri lebih utama”[15].

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat untuk menjadikan shalat berjama’ah kita meraih keutamaan yang sempurna di sisi Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak, aamiin.

_______
Footnote

[1] Lihat kitab Tahdzîbut Tahdzîb (8/418) dan Taqrîbut Tahdzîb (hlm. 464).

[2] Semua dinukil oleh Imam al-Mizzi dalam kitab Tahdzîbul Kamâl (24/282-286).

[3] Dalam Takhrîju Ahâdîtsil Ihyâ’ (1/147- al-Maktabah asy-syaamilah, al-ishdar al-awwal).

[4] Dalam kitab Fathul Bâri (2/213).

[5] Kitab Mishbâhuz Zujâjah (1/340).

[6] Dalam kitab Dha’îful Jâmi’ish Shagîr (no. 5709).

[7] Dalam Fatâwa Syaikh Ibni Bâz (1/61).

[8] HSR. Muslim (no. 709).

[9] Lihat keterangan Syaikh Salim al-Hilali dalam kitab Bahjatun Nâzhirîn (2/288).

[10] Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar dalam kitab Taqrîbut Tahdzîb (hlm. 538).

[11] Lihat kitab Bahjatun Nâzhirîn (2/287) dan Tamâmul Minnah (hlm. 288).

[12] HSR. Muslim (no. 432).

[13] Lihat kitab Bahjatun Nâzhirîn (2/288).

[14] Kitab asy-Syarhul Mumti’ (2/362).

[15] Majmû’l Fatâwâ wa Rasâ-il asy-Syaikh Ibni ‘Utsaimiin (13/29).

Kamis, 04 Mei 2017

AGAR TIDAK SERUMAH DENGAN SYETAN

AGAR TIDAK SERUMAH DENGAN SYAITAN

Semua orang ingin memiliki rumah yang tentram dan nyaman. Sayangnya, dalam usaha mewujudkan keinginan ini, kebanyakan orang baru sekedar melakukan hal-hal yang bersifat duniawi. Yakni dengan mendirikan bangunan yang megah dan melengkapinya dengan berbagai fasilitas penunjang. Selama tidak berlebihan, sebenarnya itu boleh saja. Namun yang memprihatinkan, mereka lupa bahwa inti kenyamanan dan ketentraman rumah sebenarnya justru bersumber dari ketenangan hati penghuninya. Yang itu akan dicapai manakala mereka rajin beribadah dan memanfaatkan tempat tinggalnya untuk hal-hal yang diridhai Allâh Azza wa Jalla.

Apa saja yang perlu kita lakukan di rumah kita, supaya tempat tinggal kita nyaman dan damai? Juga agar rumah kita tidak menjadi tempat favorit para syaitan? Diantara yang perlu kita perhatikan adalah:

 Pertama: Mengucapkan salam sebelum[1] masuk rumah

 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “ثَلَاثَةٌ  كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؛ “…وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلَامٍ…”.

Dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu anhu , dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga orang yang dijaga oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala ; (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan yang ketiga adalah) … orang yang memasuki rumahnya dengan mengucapkan salam…”. [HR. Abu Dawud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hâkim. Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan hadits ini hasan.[2]]

Salam ini tetap kita ucapkan, baik di dalam rumah ada orang maupun tidak.[3] Sebab Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

Apabila kalian memasuki rumah-rumah hendaklah kalian memberi salam kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allâh. [An-Nûr/24:61]

Menurut Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma ,  jika di rumah tidak ada orang, maka redaksi salamnya adalah:

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

Salam sejahtera atas kami dan para hamba Allâh yang shalih[4]

Kedua: Mengucapkan basmalah saat masuk rumah.

Diantara yang perlu kita lakukan agar syaitan tidak menjadikan rumah kita menjadi tempat tinggalnya adalah mengucapkan basmalah saat memasuki rumah. Rasûlullâh n bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ،

وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ” وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

Apabila seseorang memasuki rumahnya dan berdzikir kepada Allâh (dengan membaca basmalah) tatkala masuk dan makan, syaitan akan berkata (kepada kawan-kawannya-red), “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makan malam (di rumah ini).

Dan jika ia masuk namun tidak membaca basmalah, syaitan akan berkata (kepada kawan-kawannya-red), “Kalian mendapatkan tempat menginap”, dan jika ia tidak membaca basmalah sebelum makan niscaya syaitan akan berkata, “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam”. [HR. Muslim, XIII/190 no. 5230 dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu]

Ketiga: Mengucapkan basmalah saat menutup pintu dan perkakas rumah

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ، فَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar rumah) karena saat itu syaitan berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka. Tutuplah pintu-pintu dan ucapkanlah basmalah, karena sesungguhnya syaitan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup. Tutuplah teko kalian dan ucapkanlah basmalah. Tutupilah bejana kalian walaupun dengan meletakkan sesuatu di atasnya dan bacalah basmalah. Matikanlah lampu kalian. [HR. Al-Bukhâri, no. 3280  dan Muslim, XIII/185, no. 5218 dari Jabir bin Abdullah dengan redaksi Imam Muslim]

Diantara yang harus kita lakukan jika kita menginginkan rumah rumah kita damai dan tentram adalah memakmurkan rumah dengan ibadah dan membaca al-Qur’an. Ini yang keempat.

Syaitan tidak akan mendekati rumah yang dibacakan di dalamnya al-Qur’an. Kalaupun sudah berada di dalamnya maka ia akan lari terbirit-birit keluar darinya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، أَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، وَلَا يُقْرَأَانِ فِي دَارٍ ثَلَاثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ

Sesungguhnya Allâh telah menulis kitab dua ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Dia turunkan darinya dua ayat yang dijadikan sebagai penutup surat al-Baqarah. Tidaklah dibaca di suatu rumah selama tiga malam melainkan syaitan tidak akan mendekatinya”. [HR. At-Tirmidzi dari an-Nu’man bin Basyîr Radhiyallahu anhu dan dinyatakan shahih oleh al-Hâkim rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ! إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kalian jadikan rumah kalian (seperti) kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat al-Baqarah. [HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Hadits ini memotivasi kita untuk memperbanyak ibadah di rumah, terutama shalat yang hukumnya sunnah dan membaca al-Qur’an; supaya rumah kita tidak mirip kuburan atau jasad yang mati.[5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan:

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Lakukanlah sebagian shalat kalian di rumah kalian. Jangan jadikan rumah kalian kuburan. [HR. Al-Bukhâri dari Ibn Umar Radhiyallahu anhuma]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

خَيْرُ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ

Sebaik-baik shalat seseorang adalah yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib. [HR. Ibnu Khuzaimah dari Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu]

Adapun rumah yang dipenuhi dengan suara dangdutan, gendingan atau yang semisal maka akan menjadi tempat favorit syaitan ; sebab suara tersebut adalah seruling mereka. Sebagaimana ditegaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salla.

نَهَيْتُ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ، صَوْتٍ عِنْدَ نَغْمَةِ لَهْوٍ وَلَعْبٍ وَمَزَامِيْرِ الشَّيْطَانِ، وَصَوْتٍ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ لَطْمِ وُجُوْهٍ وَشَقِّ جُيُوْبٍ”.

Aku melarang dua suara dungu dan keji. (Pertama) Suara senandung sia-sia dan permainan serta seruling syaitan. (Kedua) Suara saat musibah berupa memukuli wajah dan merobek-robek baju”. [HR. Al-Hâkim dari Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani)

FAIDAH PENTING:

Hadits larangan menjadikan rumah seperti kuburan menunjukkan bahwa kuburan bukanlah tempat yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di dalamnya, kecuali yang ada dalilnya. Sebagaimana dijelaskan para Ulama, antara lain: Ibn Batthal (w. 449 H)[6], al-Baghawi (w. 510 H )[7], Ibn Rajab (w. 795 H)[8] dan Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H)[9].

Inilah beberapa hal yang harus dilakukan oleh siapa saja yang menginginkan rumahnya aman, damai dan tentram.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan rumah-rumah kaum Muslimin aman, damai dan tentram.

_______
Footnote
[1] Cermati: Al-Adzkâr karya an-Nawawi (hlm. 373-374).

[2] Lihat: Ibid (hlm. 50).

[3] Periksa: Ahkâm al-Qur’ân karya Ibn al-‘Arabi (III/321-322), Tafsîr al-Qurthubi (XV/354-355), al-Adzkâr (hlm. 49) dan Tafsîr as-Sa’dy (hlm. 524).

[4] Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad (II/592,  no. 1055) dan sanadnya dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bâri (XI/26)

[5] Lihat: Tuhfah al-Ahwadzi karya al-Mubârakfûri (II/531)

[6] Baca: Syarh Shahih al-Bukhary (II/86).

[7] Cermati: Syarh as-Sunnah (II/411).

[8] Periksa: Fath al-Bary karya beliau (III/232).

[9] Lihat: Fath al-Bary karya beliau (I/528) cet al-Maktabah as-Salafiyyah.

Kiat Selamat Dari Fitnah

KIAT SELAMAT DARI FITNAH

Jalan keselamatan  yang pertama-tama adalah dengan berpegang teguh kepada Kitabullâh dan sunnah Rasul-Nya. Hanya saja, tidak akan bisa berpegang dengan kitab Allâh dan sunnah Rasul-Nya kecuali dengan tafaqquh fiddin (mempelajari agama Allâh). Dan mempelajari agama Allâh tidak bisa diperoleh begitu saja dan tidak bisa digapai dengan angan-angan.

Ilmu tidak diraih dengan banyaknya membaca saja, atau dengan banyaknya kitab, atau dengan (sekedar) mentelaah banyak kitab. Ilmu tidak diperoleh dengan cara-cara seperti ini. Ilmu itu hanya dapat diperoleh dengan belajar langsung kepada para ahli ilmu, bukan (didapat) dengan sendirinya, sebagaimana dugaan sebagian orang dewasa ini. Sebagian mereka memengoleksi kitab-kitab, membaca buku-buku hadits, al-jarh wat ta’dîl, tafsir dan lainnya. Dengan itu, mereka menyangka telah mendapat ilmu. Padahal tidak demikian! Ini adalah ilmu yang tidak dibangun di atas dasar (yang kokoh) dan kaidah-kaidah (ilmiah).  Karena dia tidak belajar langsung dari ahli ilmu. Maka seharusnya dia duduk belajar di majelis-majelis ilmu, di kelas-kelas pembelajaran, dari para pengajar yang faqih lagi alim, dan dia harus sabar dalam menuntut ilmu.

Barangsiapa yang tidak pernah mengecap sengsaranya belajar sekejap masa

Ia akan meneguk cawan kebodohan sepanjang hayatnya

(Belajar Ilmu agama) harus dengan kesabaran, dan ilmu tidak didapat dengan (sekedar) membaca, dan tidak didapat dengan sendirinya. Jadi harus ada metode dalam menempuh pelajaran. Harus mengambil ilmu dari pintu-pintunya dan masuk dari pintu-pintunya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا

Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya;

[Al-Baqarah/2:189]

Ilmu mempunyai banyak pintu, dan mempunyai para pengampu dan para pengajar. Maka sudah seharusnya -wahai saudara-saudaraku- kita bergabung dalam majlis-majlis ilmu, baik itu di masjid, di sekolah, atau di lembaga pendidikan (agama) atau di bangku kuliah. Yang terpenting adalah kita mengambil ilmu dari para ulama selama mereka ada (memberikan pelajaran) dan selagi kesempatan memungkinkan.

Adapun jika kita terpencar-pencar, setiap orang duduk di kamarnya, kemudian memanfaatkan koleksi bukunya dan mempelajari buku-buku yang ada, sedangkan dia belum punya dasar (ilmu) dan belum pernah belajar dasar-dasar ilmu itu, maka ini adalah kesia-siaan. Maka menjadi keharusan untuk mempelajari agama Allâh melalui tangan para ulama.

MENETAPI JAMAAH KAUM MUSLIMIN DAN TIDAK MENISBATKAN DIRI KEPADA SUATU GOLONGAN ATAU JAMAAH TERTENTU ADALAH DIANTARA SEBAB KESELAMATAN

Di antara sebab keselamatan adalah menetapi jamaah kaum Muslimin dan tidak menisbatkan diri kepada golongan dan jamaah yang menyimpang dari jalan yang ditempuh kaum salaf kita. Karena Rasûlullâh bersabda tentang firqah nâjiyah (golongan yang selamat):

مَنْ كَانَ عَلىَ مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

Mereka adalah yang meniti jalan seperti yang aku tempuh bersama para Sahabatku pada hari ini.[1]

Allâh Azza wa Jalla berfirman

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allâh dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah/9:100]

Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti generasi pertama (assâbiqûnal awwalûn)

Adapun jika manusia terpisah-pisah (masing-masing) bersama golongan-golongan yang menyimpang, dan mulai mencela para Sahabat, atau membodohkan para Ulama, atau membodohkan para imam atau menyalahkan mereka, maka ia hanya akan sampai pada kesesatan, kecuali jika Allâh memperbaiki (keadaan)nya dengan rahmat-Nya, dan ia bertaubat kepada Allâh serta kembali kepada jamaah kaum Muslimin dan golongan yang selamat.

Rasûlullâh bersabda tentang 73 golongan (dari umat ini):

كُلُّهَا فِي النَّارِ

Semuanya di neraka [2]

Dan keadaan golongan-golongan ini di neraka berbeda-beda, tergantung seberapa jauh dia dari kebenaran. Di antara mereka ada yang (sudah sampai taraf) kafir, ada yang sesat, dan ada yang fasik. Yang pasti mereka semua mendapat ancaman dimasukkan ke neraka

إِلَّا فِرْقَةً وَاحِدَةً

Kecuali satu golongan.[3]

Para Ssahabat bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasûlullâh?” Beliau menjawab

  مَنْ كَانَ عَلىَ مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

Orang yang meniti jalan seperti yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.[4]

Jalannya adalah satu, dan jamaahnya pun satu; sebagaimana firman Allâh:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.  [Al-An’âm / 6:153]

Jalan-jalan kesesatan sangat banyak, tidak terbatas jumlahnya.

Sekarang kita saksikan banyaknya golongan dan jamaah, tidak terbatas jumlahnya. Akan tetapi jamaah ahlus sunnah wal jamaah hanya satu dari masa Rasûllullâh sampai tegaknya hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasûlullâh:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ, لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ

Masih saja ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran dengan mendapat kemenangan. Tidak akan membahayakan mereka (kelompok tersebut) orang yang menelantarakan mereka, tidak pula orang yang menyelisihi mereka, hingga datang putusan dari Allâh.[5]

Ya, akan ada orang yang memandang rendah orang yang mengikuti jalan (golongan yang selamat). Akan ada yang membodohkan mereka, mengatakan bahwa mereka orang-orang shaleh, akan tetapi tidak mengetahui waqi’ (realita), tidak paham urusan ini dan itu! Ini semua bisa menyebabkan seorang Muslim tidak peduli  mereka.

Dalam banyak hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk senantiasa bersama dengan jamaah yang berpegang teguh pada jalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , jalan para Sahabatnya dan jalan salaf  (para pendahulu) umat ini. Karena para pendahulu umat ini adalah orang yang paling tahu dan paling dekat dengan kebenaran dibandingkan orang yang sesudah mereka. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji tiga atau empat generasi (dari umat ini). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِين يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِين يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik di antara kalian adalah generasiku, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mereka yang datang setelah mereka. [6]

Perawi hadits ini mengatakan bahwa dia tidak tahu, apakah setelah generasi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Nabi menyebutkan dua generasi atau tiga generasi. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa keadaannya akan berubah setelah generasi-generasi ini. Dan mengenai keadaan (umat ini), akan terjadi apa yang terjadi. Dan sungguh telah terjadi apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan. Setelah usai generasi-generasi utama, terjadilah di tengah umat ini apa yang terjadi; berupa berbagai fitnah, ajaran yang datang dari luar, madzhab-madzhab yang beraneka warna. Tidak ada yang tetap berada di atas kebenaran kecuali jamaah kaum Muslimin yang berpegang teguh dengan apa-apa yang dipegang oleh assalafush shalih. Ini adalah termasuk kenikmatan yang Allâh berikan; bahwa kebaikan senantiasa ada, meskipun kejelekan merajalela, supaya orang-orang yang menginginkan kebaikan bisa kembali kepadanya; dan agar tegak hujah Allâh atas makhluk-Nya. Bagaimanapun fitnah dan kejelekan banyak dan merajalela, kebenaran akan senantiasa ada, walhamdu lillâh.

Kita tidak mengatakan bahwa umat Islam telah sirna, sebagaimana dikatakan sebagian penulis atau khatib. Umat Islam akan selalu –wal hamdu lillâh-.

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ

Masih saja ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran dengan mendapat kemenangan.[7]

Akan tetapi keadaannya ini haruslah dengan cara kembali kepada jama’ah kaum Muslimin dan bergabung dengannya.

Kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengetahui kebenaran dan beramal dengannya serta berpegang teguh dengannya.

MEMPERBANYAK DOA DIANTARA SEBAB KESELAMATAN

Diantara sebab keselamatan dari fitnah adalah memperbanyak doa. Seorang Muslim harus memperbanyak doa, memohon agar Allâh menjaganya dari fitnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Berlindunglah kepada Allâh dari berbagai fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.[8]

Rasûlullâh dalam tasyahhud akhir berlindung dari empat perkara dan memerintahkan (umatnya untuk melakukan itu). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika salah seorang diantara kalian selesai membaca tasyahhud, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allâh dari empat perkara dengan mengatakan

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Wahai Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah masih ad-dajjal, dan dari fitnah kehidupan dan kematian. [9]

Hendaknya seorang Muslim memperbanyak doa, agar Allâh menjaganya dari kejelekan fitnah yang tampak dan yang tersembunyi, dan meminta dengan penuh kesungguhan kepada  Allâh Azza wa Jalla dan memperbanyak berdoa. Sesungguhnya Allâh Maha Dekat lagi Maha mengabulkan doa. Barang siapa yang berlindung kepada Allâh (niscaya) Allâh akan menjaganya, dan barang siapa yang berlindung kepada Allâh maka Allâh Azza wa Jalla akan melindunginya. Barang siapa berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla maka Allâh akan mengabulkannya.

Allâh turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir dan mengatakan:

هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ

Apakah ada yang meminta, sehingga Aku akan memberinya? Apakah ada yang memohon sehingga Aku mengabulkannya? Apakah ada yang meminta ampun sehingga Aku akan mengampuninya? [10]

Sejatinya Allâh Azza wa Jalla membuka pintu-Nya siang dan malam untuk orang-orang yang berdoa. Akan tetapi ini adalah  tambahan; yaitu penambahan kesempatan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya, karena kasih sayang-Nya kepada mereka.

Seorang Muslim hendaknya memperbanyak doa kepada Allâh di setiap waktu, terlebih lagi pada keadaan-keadaan dan waktu-waktu yang utama. Keadaan yang utama di mana dalam keadaan ini doa dikabulkan seperti ketika sujud, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. Karena (ketika itu) lebih layak untuk dikabulkan untukmu.[11]

Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Keadaan seorang hamba yang lebih dekat kepada Rabb nya adalah tatkala ia bersujud. Maka berbanyaklah doa. (pada saat sujud)[12]

Juga memperbanyak doa di waktu-waktu utama seperti: akhir malam, sepertiga malam terakhir, waktu terakhir pada hari Jum’at, atau di akhir sholat.

Hendaknya manusia memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak lalai, tidak lalai dari berdoa, khususnya memohon keselamatan dari fitnah. Karena jika dia selamat dari berbagai fitnah, maka dia selamat dari setiap kejelekan. Jika dia selamat dari berbagai fitnah, selamatlah agamanya. Dan jika selamat agamanya, maka selamatlah akhir kesudahannya.

SINGKAT KATA

Fitnah sangatlah banyak dan bermacam-macam. Dan para penyeru fitnah juga sangat banyak. Mereka memang terlatih dan selalu berusaha terus menerus (professional dalam mengajak kepada fitnah), sebagaimana sabda Nabi:

قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا

Mereka adalah kaum dari bangsa kita juga, dan berbicara dengan bahasa kita.[13]

Para penyeru fitnah berbicara dengan bahasa kita. Mereka dari kaum yang berkulit sama dengan kita (dari kaum yang sama), kebanyakan mereka dari bangsa arab, ataupun dari kerabat kita. Maka wajib bagi setiap manusia untuk berhati-hati dan tidak tertipu. Setiap orang yang mengajak kepada kesesatan atau menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah maka jauhilah, walaupun ia adalah oranga yang paling dekat denganmu. Dan Rasûlullâh n mengabarkan bahwa jalan-jalan yang menyelisihi jalan Allâh, di atas setiap jalan tersebut ada syaitan yang menyeru manusia kepadanya, syaitan-syaitan dari golongan manusia dan dari golongan jin, yang menyeru kepada kesesatan. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Mereka mengajak ke neraka, sedang Allâh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. [Al-Baqarah/2:221]

Syaitan mengajak golongannya agar menjadi penghuni neraka sa’îr. Di sana terdapat para penyeru kesesatan. Kita harus berhati-hati dari mereka, dan berhati-hati terhadap syubhat mereka. Kita wajib bersandar kepada kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya, juga kepada Ahli ilmu. Kita harus bertanya tentang hal yang kurang jelas, sebagai mana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. [An-Nahl/16:43]

Kita meminta kepada Allâh pada setiap rakaat dari shalat kita, ketika kita membaca Surat al-Fatihah yang merupakan rukun shalat. Allâh Azza wa Jalla berfirman

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fathihah /1:6-7]

Kita meminta kepada-Nya agar Dia memberikan hidayah kepada kita menuju jalan yang lurus, dan menjauhkan kita dari jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang sesat. Orang-orang yang dimurkai adalah ahli ilmu yang tidak beramal dengan ilmunya, dan orang-orang sesat adalah mereka yang beramal tanpa ilmu. Sedangkan orang-orang yang diberi nikmat adalah orang-orang yang berilmu dan beramal. Dan merekalah yang Allâh sebutkan dalam firman-Nya.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allâh dan Rasul (-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allâh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisa / 4:69]

Barang siapa diberi taufiq meniti jalan Allâh, maka teman karib mereka adalah orang-orang terbaik tersebut. Dan barang siapa menyimpang dari jalan Allâh, maka teman karibnya adalah orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat- kita memohon kepada Allâh keselamatan-.Imam Darul Hijrah Mâlik bin Anas Radhiyallahu anhu pernah mengungkapkan untaian kalimat  yang begitu agung. Setiap kaum Muslimin seharusnya memperhatikan dan mengambil pelajaran darinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah menjadikan baik umat yang pertama.”

Apakah yang telah menjadikan umat yang pertama baik? Ia adalah al-Kitab dan as-Sunnah, dan mengikuti Rasûl. Begitu pula ketika keburukan, kesesatan, golongan dan jamaah begitu banyak, maka tidak ada yang bisa memperbaiki akhir dari umat ini kecuali dengan apa-apa yang menjadikan baik generasi yang pertama. Perkara ini sudah ada (tersedia) –wal hamdu lillâh– di hadapan kita. Perkara tersebut adalah Kitab Allâh dan Sunnah Rasûlullâh, dan kembali kepada ulama yang mempunyai kekhususan (berpegang) kepada Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya, agar mereka menjelaskan kepada kita hal-hal yang belum jelas bagi kita.

_______
Footnote
[1] HR. At-Tirmidzi dalam al-îmân, no. 2641.

[2] HR. At-Tirmidzi dalam al-îmân, no. 2641.

[3] HR. Ibnu Majah, no. 3992.

[4] HR. At-Tirmidzi dalam al-îmân, no. 2641.

[5] HR. Muslim dalam al-Imârah, no. 1920; At-Tirmidzi dalam al-Fitan, no. 2229; Abu Dawud dalam al-Fitan wal Malâhim, no. 4252; Ibnu Majah, no. 3952; Ahmad 5/279.

[6] HR. Al-Bukhâri dalam Syahadat, no. 2508; Muslim dalam Fadhâ’il ash-Shahâbah, no. 2535; At-Tirmidzi dalam al-Fitan, no. 2322; An-Nasa’i dalam al-Aimân wan Nudzur, no. 2809; Abu Dawud dalam as-Sunnah, no. 4657; Ahmad 4/427.

[7] HR. Muslim dalam al-Imârah, no. 1920; At-Tirmidzi dalam al-Fitan, no. 2229; Abu Dawud dalam al-Fitan wal Malâhim, no. 4252; Ibnu Majah, no. 3952; Ahmad 5/279.

[8] HR. Muslim dalam al-Jannah wa Shifatu Na`îmiha wa Ahluha, no. 2867

[9] HR. Muslim, no. 588.

[10] HR. Al-Bukhâri dalam ad-Da’âwat,no. 5962; Muslim dalam Shalâtul Musâfirîn wa Qashruhâ, no. 758; At-Tirmidzi dalam ash-Shalât, no. 446; Abu Dawud dalam ash-Shalât, no. 1315; Ibnu Majah dalam Iqâmatush Shalâh was Sunnatu fîhâ, no. 1366; Ahmad 2/433; Mâlik dalam an-Nidâ’ lis Shalât, no. 496; Ad-Dârimi dalam ash-Shalât, no. 1484.

[11] HR. Muslim dalam ash-Shalâh, no. 479; An-Nasa’i dalam at-Tathbiq, no. 1120; Abu Dawud dalam ash-Shalât, no. 876; Ahmad 1/219; Ad-Darimi dalam ash-Shalât, no. 1325.

[12] HR. Muslim dalam ash-Shalât, no. 482; An-Nasâ’i dalam at-Tathbîq, no. 1137; Abu Dawud dalam ash-Shalât, no. 875; Ahmad 2/421.

[13] HR. Al-Bukhâri dalam al-Manâqib, no. 3411; Muslim dalam al-Imârah, no. 1847, Ibnu Majah, al-Fitan, no. 3979

Buku Putih Kyai NU

Sinopsis
"Buku Putih Kyai NU"
Karya: Kyai Afrokhi Abdul Ghoni.
Pengantar: Romo Sulinggi Winarno (H. Abdul Aziz).

Tahlilan atau Selamatan Setelah Kematian ternyata bukan dari Ajaran Islam, tapi dari Ajaran Agama Hindu !

Ternyata Dalilnya ada di Kitab Wedha !

Lebih Dari 200 Dalil Dari Kitab WEDHA (KITAB SUCI UMAT HINDU) TENTANG SELAMATAN KEMATIAN, Hari 1, 7, 10, 100 hari, Nyewu, dll.

0leh : ROMO PINANDHITA SULINGGIH WINARNO, (Sarjana Agama Harga (S1) & Pendeta Berkasta Brahmana.

Kasta Brahmana: Adalah Kasta/Tingkatan Tertinggi pada Umat Hindu).

Alhamdulillah yang sekarang beliau Romo Pinandhita Sulinggih Winarno menjadi Mualaf/masuk Islam lalu beliau mengubah namanya menjadi Abdul Aziz, sekarang beliau tinggal di Blitar-Jawa Timur.

Dulu beliau tinggal di Bali bersama keluarganya yang Hindu, Beliau hampir dibunuh karena ingin masuk Islam, beliau sering diludahi mukanya karena ingin beragama Islam & alhamdulillah ayahnya sebelum meninggal, juga memeluk agama Islam.

Abdul aziz berharap seluruh kaum muslimin membantu mempublikasikan, menyebarkan materi dibawah ini.

Jazakumullahu khoiran katsira.

Kesaksian Mantan Pendeta Hindu: Abdul Aziz bersumpah atas asma Allah bahwa Selamatan, Ketupat, Tingkepan, & sebahagian budaya jawa lainnya adalah keyakinan Umat Hindu dan beliau menyatakan tidak kurang dari 200 dalil dari kitab wedha (kitab suci Umat Hindu) yang menjelaskan tentang keharusan Selamatan bagi Pemeluk Umat Hindu, demikian akan saya uraikan fakta dengan jelas dan ilmiyah di bawah ini :

1. Di dalam prosesi menuju alam nirwana menghadap ida sang hyang widhi wasa mencapai alam moksa, diperintahkan untuk selamatan/kirim do’a pada 1 harinya, 2 harinya, 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya, mendak pisan, mendak pindho, nyewu (1000 harinya).

Pertanyaan ????? apakah anda orang Islam juga melakukan itu ?????

ketahuilah bahwa TIDAK AKAN PERNAH ANDA TEMUKAN DALIL DARI AL-QUR’AN & AS-SUNNAH/hadits shahih TENTANG PERINTAH MELAKUKAN SELAMATAN, bahkan hadits yang dhoif (lemah) pun tidak akan anda temukan, akan tetapi kenyataan dan fakta membuktikan bahwa ana akan menemukan dalil/dasar selamatan, dkk, justru ada dalam Kitab Suci Umat Hindu,

COBA ANDA BACA SENDIRI DALIL DARI KITAB WEDHA (Kitab Suci Umat Hindu) DIBAWAH INI:

a. Anda buka kitab SAMAWEDHA halaman 373 ayat pertama, kurang lebih bunyinya dalam bahasa SANSEKERTA sebagai berikut: PRATYASMAHI BIBISATHE KUWI KWIWEWIBISHIBAHRA ARAM GAYAMAYA JENGI PETRISADA DWENENARA.

ANDA BELUM PUAS, BELUM YAKIN, ???

b. Anda buka lagi KITAB SAMAWEDHA SAMHITA BUKU SATU, BAGIAN SATU, HALAMAN 20. Bunyinya : PURWACIKA PRATAKA PRATAKA PRAMOREDYA RSI BARAWAJAH MEDANTITISUDI PURMURTI TAYURWANTARA MAWAEDA DEWATA AGNI CANDRA GAYATRI AYATNYA AGNA AYAHI WITHAIGRANO HAMYADITAHI LILTASTASI BARNESI AGNE.

Di paparkan dengan jelas pada Ayat Wedha diatas bahwa lakukanlah pengorbanan pada orang tuamu dan lakukanlah kirim do’a pada orang tuamu di hari pertama, ke tiga, ke tujuh, empat puluh, seratus, mendak pisan, mendhak pindho, nyewu(1000 harinya).

Dan dalil-dalil dari Wedha selengkapnya silahkan anda bisa baca di dalam buku karya Abdul aziz Mantan Pendeta Hindu) berjudul “mualaf menggugat selamatan”, di paparkan TIDAK KURANG DARI 200 DALIL DARI “WEDHA” Kitab Suci Umat Hindu semua.

JIKA ANDA BELUM YAKIN, MASIH NGEYEL,,, ?

c. Silahkan anda Buka dan baca kitab MAHANARAYANAUPANISAD.

d. Baca juga buku dengan  judul ,“NILAI-NILAI HINDU DALAM BUDAYA JAWA” !
karya Prof.Dr. Ida Bedande Adi Suripto (BELIAU ADALAH DUTA DARI AGAMA HINDU UNTUK NEGARA NEPAL, INDIA, VATIKAN, ROMA, & BELIAU MENJABAT SEBAGAI SEKRETARIS PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA).

Beliau menyatakan SELAMATAN SURTANAH, GEBLAK, HARI PERTAMA, KE TIGA, KE TUJUH, KE SERATUS, MENDHAK PISAN, MENDHAK PINDHO, NYEWU (1000 harinya) ADALAH IBADAH UMAT HINDU dan beliau menyatakan pula NILAI-NILAI HINDU SANGAT KUAT MEMPENGARUHI BUDAYA JAWA,

=ADI SURIPTO DENGAN BANGGA MENYATAKAN UMAT HINDU JUMLAH PENGANUTNYA MINORITAS AKAN TETAPI AJARANNYA BANYAK DIAMALKAN MASYARAKAT, yang maksudnya sejak masih dalam kandungan ibu-pun sebagian masyarakat melakukan ritual:

TELONAN (selamatan bayi pada hari ke 105 (tiap telon 35 hari x 3 =105 hari sejak hari kelahiran )),

TINGKEPAN (selamatan untuk janin berusia 7 bulan)=
e. Baca majalah “Media Hindu” tentang filosofis upacara NYEWU (ritual selamatan pada 1000 harinya sejak meninggal). Dan budaya jawa hanya tinggal sejarah bila orang jawa keluar dari Agama Hindu.

f. Jika anda kurang yakin, Masih ngeyel dan ingin membuktikan sendiri anda bisa meneliti Kitab Wedha datang saja ke DINAS KEBUDAYAAN BALI, mereka siap membantu anda. atau Telephon Nyi Ketut Suratni: 0857 3880 7015 (dia beragama Hindu tinggal di Bali, wawasanya tentang Agama Hindu cukup luas dia bekerja sebagai pemandu wisata ).

g. APA DASAR YANG LAIN DI DALAM AGAMA HINDU ??? :

# RUKUN IMAN HINDU (PANCA SRADA) yang harus diyakini Umat Hindu

1. Percaya adanya Sang Hyang Widhi.

2. Percaya adanya roh leluhur.

3. Percaya adanya karmapala.

4. Percaya adanya smskra manitis.

5. Percaya adanya moksa.

# PANCA SRADA punya rukun, yaitu:

• PANCA YAJNA (artinya 5 macam selamatan).

1. Selamatan DEWA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau biasa dikenal orang dalam istilah dengan,” memetri bapa kuasa ibu pertiwi “).

2. Selamatan PRITRA YAJNA (selamatan yang DI TUJUKAN PADA LELUHUR).

3. Selamatan RSI YAJNA (selamatan yang ditujukan pada guru atau kirim do’a yang ditujukan pada Guru, biasanya di punden/ndanyangan ). Kalau di kota di namakan dengan nama lain yaitu “SELAMATAN KHAUL” memperingati kiyainya/gurunya & semisalnya, yang meninggal dunia.

4. Selamatan MANUSIA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada hari kelahiran atau dikota disebut “ULANG TAHUN” ).

5. Selamatan BUTA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada hari kebaikan ), misalnya kita ambil contoh biasanya pada beberapa masyarakat islam (jawa) melakukan selamatan hari kebaikan pada awal bulan ramadhan yang disebut “Selamatan Megengan”.

Fenomena diatas tidak diragukan lagi karena pengaruh Agama Hindu/Budaya Jawa/Nenekmoyang .

Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka ,” Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab,”(tidak) kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami(melakukan-nya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.(QS. al-Baqarah,170).

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”(QS. an-Najm,23).

Dan Allah juga berfirman: "Dan apabila dikatakan pada mereka,” mari lah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul.” mereka menjawab,” cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).” Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ? (QS. al-Maidah: 104).

AKIBAT YANG TIDAK DISELAMATI DALAM KEYAKINAN AGAMA HINDU, yaitu:

Pertanyaan ?
Orang tua kalau tidak diselamati apa rohnya gentayangan ?

Buka dalilnya DI KITAB SUCI UMAT HINDU
di Kitab SIWASASANA HALAMAN 46-47 CETAKAN TAHUN 1979: Bagi yang tidak mau selamatan mereka di peralina hidup kembali dalam dunia bisa berwujud menjadi hewan atau bersemayam di dalam pohon, makanya kalau anda ke Bali banyak pohon yang dikasih kain-kain dan sajen-sajen itu, karena mereka meyakini roh nya ada dalam pohon itu, dan bersemayam dalam benda-benda bertuah misal keris dan jimat, di hari Sukra Umanis (Jum’at Legi) keris atau jimat diberi bunga & sajen-sajen.

DEWA ASURA akan marah besar, jika orang tidak mau melakukan selamatan maka dewa asura akan mendatang-kan bala/bencana & membunuh manusia yang ada di dunia.
....................................

AKIBAT YANG DI SELAMATI DALAM KEYAKINAN HINDU, yaitu: Dalam keyakinan Agama Hindu bagi yang mau selamatan maka mereka langsung punya tiket ke Surga.

...................................

DEMI ALLAH tidak ada satu dalilpun perintah Allah dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang perbuatan tersebut diatas.

Sungguh Allah berfirman: “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka” (QS. an-Najm: 23).

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” Mereka menjawab,”(tidak) kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukan-nya). ”Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.(QS. al-Baqarah:170)

KESIMPULAN:

TRADISI-TRADISI SALAH YANG MEMBUDAYA: Tradisi keliru dan telah membudaya pada masyarakat kita yang kita sebutkan diatas, bukan untuk diikuti akan tetapi untuk dijauhi.

Bahwa setidaknya ada dua alasan mereka melakukan tradisi-tradisi tersebut:

1. Mereka berpedoman dengan Hadits Palsu;

2. Sebagian dari mereka hanya sekedar ikut-ikutan (mengekor) terhadap tradisi yang berjalan disuatu tempat.

Mereka akan mengatakan bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu dan nenek moyang mereka !

Saudaraku sekalian, argumentasi ”Apa kata orang tua”, bukanlah jawaban ilmiyah dari seorang muslim yang mencari kebenaran.

Apalagi masalah ini menyangkut baik buruknya Aqidah seseorang.

Maka, permasalahan ini harus didudukkan dengan timbangan al-Qur'an dan as-Sunnah ash-Shohihah.

Sikap mengekor kepada pendahulu dan nenek moyang dengan tanpa memperdulikan Dalil-dalil Syar’i merupakan perbuatan yang keliru, karena sikap tersebut menyerupai orang-orang quraysy, ketika diseru oleh Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Apa jawab mereka ? silahkan anda baca al-Qur’an, Surat az-Zuhruf ayat: 22 & asy-Syu’ara ayat: 74.

Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa) dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka.” (Qs. az-Zuhruf: 22).

Jawaban seperti ini serupa dengan apa yang dikatakan Kaum Nabi Ibrahim, ketika mereka diajak meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Mereka mengatakan, "Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala).” (QS. asy-Syu’ara: 74).

PENUTUP
Demikian wahai saudaraku persaksian yang dapat saya sampaikan.

Mari janganlah mencampur adukkan Ajaran Hindu dengan Ajaran Islam, misalnya jika anda tidak berani mendakwahi atau menyampaikan pada saudara kita sebahagian Umat Islam yang masih melakukan selamatan dan sebagainya adalah dari Hindu bukan Ajaran Islam.

misal Jika anda merasa malu, gak enak (ewuh pakewuh) menyampaikan atau mendakwahi kepada saudara kita Muslim yang masih melakukan selamatan dan sebagainya atau malu gara-gara kita menegakkan al-Qur’an & as-Sunnah, anda keliru besar.

Ingat janji-Nya, Allah berfirman: sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka-,,,,(QS. at-Taubah: 111).

Marilah masing-masing kita selalu berbenah dan memperbaiki diri. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita dan seluruh Kaum Muslimin. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Apa Alasanku Untuk Tidak berayukur?

Bismillaahirrohmaanirrohiim.. وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُوْنَ   “Dan seg...