Telusuri

Minggu, 09 April 2017

SABARKAH KITA DENGAN PERBEDAAN INI????

SABARKAH KITA DENGAN PERBEDAAN INI????

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.  Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha Melihat. [Al-Furqân/25:20]

TAFSIR RINGKAS

“Dan Kami tidak mengutus para rasul sebelummu, wahai Rasul Kami, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” Dengan demikian, janganlah engkau menghiraukan perkataan orang-orang musyrik (yang mengatakan), ‘Mengapa rasul ini mengkonsumsi makanan?’ Janganlah kamu pedulikan hal tersebut. Sesungguhnya mereka telah mengetahui ini, tetapi mereka sombong dan mengingkarinya.

“Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain,” maksudnya, ini adalah sunnah Kami (ketetapan Kami yang pasti terjadi). Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Kami uji orang Mukmin dengan orang kafir, Kami menguji orang kaya dengan orang miskin dan Kami menguji orang yang mulia dengan orang rendahan. Kami melihat siapakah yang bersabar dan siapakah yang tidak bersabar? Kami akan membalas orang yang bersabar sesuai hak mereka dan orang-orang yang tidak bisa bersabar juga demikian.

“Maukah kalian bersabar?“ Maksud dari pertanyaan ini adalah perintah, “Bersabarlah kalian dan jangan marah! Wahai orang-orang yang beriman atas gangguan orang-orang musyrik dan kafir terhadap kalian.”

“Dan adalah Rabbmu Maha Melihat.” Dan Rabb kamu, wahai Rasul, Maha Melihat orang yang bersabar dan orang yang marah. Oleh karena itu, bersabarlah dan jangan marah! Sesungguhnya dunia adalah tempat fitnah dan ujian, dan sesungguhnya Allâh akan membalas orang-orang yang bersabar dengan pahala yang tanpa batasnya.[1]

PENJABARAN AYAT

Sebab Turun Ayat

Disebutkan oleh al-Wâhidi rahimahullah dalam kitab Asbâbun Nuzûl sebuah riwayat dari Juwaibir dari Adh-Dhahhâk dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Ketika orang-orang musyrik mencela Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam sebagai orang yang miskin, mereka mengatakan:

وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ

Dan mereka berkata, “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?[2]

Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam sedih karena itu. Kemudian Malaikat Jibril datang menghibur Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam dan berkata, ‘Keselamatan semoga terlimpah untukmu, wahai Rasul Allâh! Rabb, Pemiliki kemuliaan mengucapkan salam kepadamu dan berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.’[3] yaitu mereka mencari penghidupan di dunia.”[4]

Namun, dalam sanadnya ada Juwaibir, dia sangat lemah dan adh-Dhahhaak tidak bertemu dengan Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma. Dengan demikian, atsar (perkataan Sahabat Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu) di atas sanadnya lemah.

Sebab turun di atas inilah yang sering dibawakan oleh para Ulama tafsir, meskipun dalam sanadnya terdapat kelemahan.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”

Allâh Azza wa Jalla mengutus para Rasul-Nya dari kalangan manusia. Karena mereka manusia, tentu membutuhkan makan dan minum, juga perlu bekerja untuk mencari rezeki Allâh dengan cara halal dan tidak bergantung kepada orang lain.

Dan ini bukan aib bagi mereka. Justru dengan demikian, para Rasul bisa menjadi teladan bagi para pengikutnya dalam kesehariannya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang orang-orang yang telah Allâh utus sebelumnya. Sesungguhnya dahulu, mereka mengkonsumsi makanan dan membutuhkan makan, ‘dan mereka berjalan di pasar-pasar’ untuk mencari penghasilan dan berdagang. Dan itu tidak bertentangan dengan keadaan dan kedudukan mereka. Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan untuk mereka penampilan yang baik, sifat-sifat yang indah, perkataan-perkataan yang utama, amalan-amalan yang sempurna, mukjizat-mukjizat yang hebat dan dalil-dalil yang kuat.”[5]

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Saya hanyalah seorang rasul. Saya tidak mengada-adakan hal baru dari apa yang dilakukan oleh para rasul. Mereka adalah manusia yang makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan ada pendapat lain (dalam tafsir ayat ini), yaitu: tidaklah kami mengutus rasul-rasul sebelummu kecuali akan dikatakan kepada mereka seperti perkataan ini. Sesungguhnya mereka makan makanan dan berjalan di pasar-pasar, sebagaimana di tempat lain:

مَا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِنْ قَبْلِكَ

‘Tidaklah dikatakan kepadamu kecuali seperti apa yang telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelummu.’[6].”[7]

Menurut pendapat yang kedua yang disebutkan oleh Imam al-Baghawi di atas, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallammendapatkan celaan yang sama dengan celaan yang pernah dikatakan oleh orang-orang musyrik di zaman masing-masing rasul.

Orang-orang kafir dan musyrik tidak pernah berhenti mencela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Celaan mereka didasari oleh kebodohan dan kesombongan mereka memeluk agama Islam. Seandainya, Allâh Azza wa Jalla mengutus malaikat sebagai rasul, belum tentu mereka beriman kepada malaikat tersebut. Oleh karena itu, lanjutan dari ayat ini adalah:

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا ﴿٢١﴾ يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَىٰ يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا ﴿٢٢﴾ وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami, “Mengapa tidak diturunkan kepada kita Malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Rabb kita?” Sesungguhnya mereka memandang diri mereka besar (sombong) dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezhaliman. Pada hari mereka melihat malaikat, dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata, ‘Hijraan mahjuuraa’ (Semoga Allâh menghindarkan bahaya ini dari saya). Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqân/25:21-23]

AYAT-AYAT YANG SEMISAL DENGAN AYAT INI

Beberapa ayat yang semisal dengan ini. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” [An-Nahl/16:43]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla mengutus para rasul dan semuanya manusia laki-laki.

Begitu pula firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٧﴾ وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

Tidaklah Kami mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui. Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.” [Al-Anbiya’/21:7-8]

Ini menunjukkan bahwa seluruh para Nabi membutuhkan makanan, layaknya manusia pada umumnya.

juga firman-Nya:

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan [Al-Mâidah/5:75]

Pada ayat ini Allâh mengabarkan bahwa Nabi ‘Isa Alaihissallam membutuhkan makan.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً

Dan Kami jadikan sebagian kalian fitnah (cobaan) bagi sebagian yang lain.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan keadaan yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang sehat dan ada yang sakit, ada yang sempurna dan ada yang cacat, ada yang bermartabat mulia dan ada yang rendahan, ada yang berwajah rupawan dan cantik dan ada yang tidak demikian. Ini semua adalah keadaan-keadaan dunia yang bisa menjadi fitnah atau cobaan untuk manusia, apakah mereka bisa menerimanya dengan lapang dada ataukah tidak?

Perbedaan ini sudah ditaqdirkan oleh Allâh Azza wa Jalla , sehingga setiap manusia wajib rela menerima taqdir Allâh tersebut.

Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Dan Kami jadikan sebagian kalian sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maksudnya adalah orang yang kaya menjadi cobaan bagi orang yang miskin. Orang miskin akan mengatakan, ‘Mengapa saya tidak seperti orang kaya tersebut?’ Begitu pula orang yang sehat menjadi fitnah bagi orang yang sakit. Orang yang mulia menjadi fitnah bagi orang rendahan. Ibnu ‘Abbas c mengatakan, ‘Yaitu Aku (Allâh Azza wa Jalla ) jadikan sebagian kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain, agar kalian bisa bersabar atas apa yang kalian dengar dari mereka dan perbedaan yang kalian lihat dari mereka sehingga kalian bisa mengikuti petunjuk. Dalam pendapat lain, dikatakan bahwa ini adalah ujian untuk orang yang memiliki kedudukan mulia terhadap orang yang rendahan. Orang yang memiliki kedudukan mulia ketika mereka berniat masuk ke agama Islam, kemudian dia melihat orang-orang rendahan yang telah masuk Islam sebelumnya, maka mereka enggan (untuk masuk Islam), dan dia berkata, ‘Bagaimana mungkin saya masuk Islam setelah orang itu, sehingga dia menjadi lebih dahulu dan memiliki keutamaan.’ Dengan ini, dia tetap pada kekafirannya dan menolak untuk masuk agama Islam. Ini adalah bentuk fitnah sebagian dari sebagian yang lain.”[8]

Allâhu a’lam, tidak ada pertentangan di antara dua pendapat di atas, orang miskin diuji dengan orang kaya, apakah orang miskin bisa bersabar menerima keadaannya? Begitu pula orang kaya, mereka diuji dengan keberadaan orang miskin, apakah mereka bisa bersyukur atas kenikmatan yang Allâh berikan kepada mereka ataukah tidak ? Apakah mereka bisa membersihkan dari diri mereka sifat sombong dan sikap meremehkan orang lain?

DALAM URUSAN DUNIA, LIHATLAH ORANG YANG LEBIH MEMILIKI KEKURANGAN

Dengan perbedaan yang ada di dunia ini, sudah sepantasnya kita banyak melihat kepada orang-orang yang banyak memiliki kekurangan dalam hal duniawiyah. Orang yang merasa dirinya miskin, maka sudah sepantasnya melihat kepada orang yang lebih miskin dari dirinya. Begitu pula jika dia merasa kedudukannya rendah, memiliki penyakit, jelek fisiknya dan lain-lain, maka sudah sepantasnya dia melihat kepada orang yang memiliki kekurangan lebih banyak daripada apa yang dia rasakan. Dengan demikian, insya Allâh, seorang hamba akan bisa selalu bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla .

Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam bersabda:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

Jika seorang dari kalian melihat kepada orang yang diberikan kelebihan harta dan fisik darinya maka lihatlah kepada orang yang memiliki kekurangan darinya.[9]

Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam juga bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah kalian kepada orang yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat kepada orang yang di atas kalian. Sesungguhnya itu lebih berhak (kalian lakukan) agar kalian tidak menganggap remeh kenikmatan Allâh kepada kalian.[10]

DALAM URUSAN AKHIRAT, KITA BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

Akan tetapi untuk urusan akhirat dan beramal shalih, maka kita disuruh untuk berlomba-lomba dalam mengerjakannya, saling menasihati dan saling mengingatkan akan pentingnya beramal shalih.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Sekiranya Allâh menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allâh hendak menguji kalian atas pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” [Al-Mâidah/5:48]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” [Al-Baqarah/2:148]

Dan juga firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. [Al-Muthaffifin/83:26]

Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegaralah kalian untuk beramal, sebelum datang fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seorang ketika pagi dia beriman, kemudian di waktu sorenya dia menjadi kafir, atau seseorang ketika sore dia beriman, kemudian di waktu paginya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan barang-barang dunia.[11]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

أَتَصْبِرُونَ

Apakah kalian bersabar?

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya, (Apakah kalian bersabar?-red) dengan keadaan ini, yang berupa kemiskinan, kesulitan dan gangguan (dari orang kafir).”[12]

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa ada pendapat lain tentang makna ‘Apakah kalian bersabar?’ yaitu ‘bersabarlah kalian!’ Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

‘Apakah kalian tidak berhenti?’ [Al-Mâidah/5:91]

Maksudnya adalah ‘berhentilah!’ Berdasarkan ini, berarti ini adalah perintah untuk bersabar.”[13]

KESABARAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DAN KERELAANNYA DALAM MENERIMA KEADAAN YANG KURANG

Allâh Azza wa Jalla menguji Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan ujian yang sangat banyak dan sangat besar. Ujian tersebut pasti terjadi pada Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam . Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam menyebutkan dalam hadits qudsi, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لِأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ بِكَ

Sesungguhnya Aku telah mengutusmu untuk mengujimu dan Aku menguji (manusia) dengan keberadaanmu.[14]

Disamping Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mendapatkan ujian, manusia juga diuji dengan keberadaan Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam . Apakah mereka bisa menerima kenabiannya, tidak mengingkari apa yang dikabarkannya ataukah tidak? Meskipun Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam sering ditolak dan dicela oleh orang-orang kafir, Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam tetap meneruskan dakwahnya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam adalah manusia yang sangat sabar dengan keadaannya dan Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam benar-benar tidak terpengaruh dengan dunia, apalagi fitnah yang disebutkan dalam ayat ini.

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma pernah mengatakan:

دَخَلَتْ عَلَيَّ امْرَأَةٌ مِنَ الْأَنْصَارِ فَرَأَتْ فِرَاشَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطِيفَةٌ مَثْنِيَّةٌ، فَانْطَلَقَتْ فَبَعَثَتْ إِلَيَّ بِفِرَاشٍ حَشْوُهُ الصُّوفُ، فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ؟ ” قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ فُلَانَةٌ الْأَنْصَارِيَّةُ دَخَلَتْ عَلَيَّ، فَرَأَتْ فِرَاشَكَ فَذَهَبَتْ فَبَعَثَتْ إِلَيَّ بِهَذَا قَالَ: ” رُدِّيهِ يَا عَائِشَةُ، فَوَاللهِ لَوْ شِئْتُ لَأَجْرَى اللهُ مَعِيَ جِبَالَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّة

Seorang wanita dari kalangan Anshar masuk ke dalam rumahku, lalu dia melihat ranjang Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam beralas kulit. Kemudian dia pun pulang dan mengirimkan kepadaku ranjang yang alasnya terbuat dari wol. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam bersabda, ‘Apa ini? Wahai ‘Aisyah?’ Saya pun berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Ada seorang wanita Anshar masuk ke dalam rumahku dan melihat ranjangmu, kemudian dia pergi dan mengirimkan ini kepadaku.’ Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam pun berkata, ‘Kembalikanlah itu! Wahai ‘Aisyah! Demi Allâh! Seandainya aku mau, maka Allâh akan menjalankan gunung emas dan perak bersamaku.’.”[15]

Subhanallâh, Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam mau, maka Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam bisa menjadi orang terkaya di dunia dan paling banyak memiliki fasilitas-fasilitas duniawiyahnya. Akan tetapi, Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam tidak menginginkannya dan lebih memilih hidup dengan keadaan sederhana.

Di dalam kisah yang panjang ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam menjauhi istri-istri Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam dan tinggal di suatu ruangan kecil, ‘Umar bin al-Khaththab z menceritakan:

Saya keluar hingga saya sampai (ke tempat Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam ), ternyata Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam berada di suatu ruangan yang tinggi milik Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam . Dan Beliau sedang berada di atas tikar dan tidak ada lapis antara tubuh Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam dengan tikar tersebut. Dan di bawah kepala Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam ada bantal yang terbuat dari kulit (yang sudah disamak) dan alasnya adalah serabut pohon kurma. Di kaki Beliau ada dedaunan (yang digunakan untuk membersihkan kulit) yang dikumpulkan. Di sebelah kepala Beliau ada kulit yang digantung. Saya pun bisa melihat bekas tikar di badan Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam bagian samping, kemudian saya menangis. Kemudian Beliau pun berkata, ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Saya berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya Kisra dan Qaishar dengan apa yang mereka miliki (dari dunia), sedangkan engkau adalah utusan Allâh.’ Beliau berkata, ‘Apakah kamu tidak ridha jika dunia untuk mereka dan akhirat untuk kita?’[16]

Begitulah orang-orang kafir, meskipun mereka di dunia dihiasi dengan banyak barang, kemewahan dan berbagai macam perhiasan dunia, maka sudah sepantasnya orang-orang yang beriman tidak terkecoh dengan hal tersebut. Kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli dengan harta dan dunia. Biarlah mereka mendapatkan berbagai hal tersebut di dunia, tetapi mereka tidak akan mendapatkannya di akhirat dan biarlah di dunia kita mendapatkan berbagai macam kekurangan, tetapi Allâh Azza wa Jalla memberikan surga sebagai gantinya.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

Dan adalah Rabbmu Maha Melihat

‘Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat’ semua orang, melihat siapa yang bersabar dan yang tidak, melihat orang yang beriman dan yang tidak, melihat orang yang telah menunaikan hak Allâh Azza wa Jalla dan orang yang tidak menunaikannya.[17]

KESIMPULAN

Terdapat riwayat dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma tentang sebab turunnya ayat tersebut, tetapi dalam sanadnya terdapat kelemahan.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamdiutus sebagai seorang rasul dan Beliau makan dan mencari rezeki. Ini bukanlah suatu aib bagi seorang Rasul, karena Allâh Azza wa Jalla tidak mengutus seorang rasul kecuali dia juga makan dan mencari rezeki.
Orang-orang kafir mengejek Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam dengan ejekan tersebut, sebenarnya hanya berniat mengejek dan merendahkan Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam . Kalaupun Allâh Azza wa Jalla menurunkan malaikat sebagai utusan Allâh Azza wa Jalla mereka tetap saja tidak mau beriman.
Yang dimaksud dengan fitnah pada ayat di atas adalah cobaan bagi orang-orang yang beriman dengan adanya perbedaan duniawi di antara manusia.
Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada kita agar bisa bersabar dalam menghadapi perbedaan tersebut.
Kita diperintahkan untuk banyak melihat orang-orang yang lebih banyak memiliki kekurangan dalam hal duniawi daripada diri kita, agar kita bisa terus bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla .
Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam adalah manusia yang paling bisa bersabar menghadapi berbagai fitnah, termasuk fitnah perbedaan duniawi ini. Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam mau, maka Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam bisa menjadi orang yang paling kaya di dunia ini, tetapi beliau tidak menginginkannya.
Kesederhanaan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam sudah sepantasnya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman agar tidak mencintai dunia.

***

DAFTAR PUSTAKA

Aisarut Tafâsîr li Kalâm ‘Aliyil Kabîr wa bihâmisyihi Nahril Khair ‘Ala Aisarit Tafâsîr. Jâbir bin Musa Al-Jazaairi. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
Al-Jâmi’ Li Ahkâmil-Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
Asbâbun Nuzû Abul-Hasan ‘Ali bin Ahmad Al-Waahidi An-Naisaburi. Tahqiiq: ‘Isham bin ‘Abdil-Muhsin Al-Humaidan. Dammam: Daarul-Ishlaah.
Jâmi’ul Bayân fii Ta’wîlil Qur’ân. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzhîm. Isma’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
Taisîr al-Karîm ar-Rahmân. Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.

___________

Footnote

[1] Lihat Aisar at-Tafâsîr, hlm. 1022

[2] QS. Al-Furqân/25:7

[3] QS. Al-Furqân/25:20

[4] Asbâbun Nuzûl, karya Abil Hasan al-Wahidi, hlm. 332

[5] Tafsir Ibni Katsîr, VI/100.

[6] QS. Fushshilat/41: 43.

[7] Tafsir Al-Baghawi, VI/77.

[8] Al-Baghawi, VI/77.

[9] HR. Al-Bukhâri no. 6490 dan Muslim, no. 2963/7428.

[10] HR. At-Tirmidzi no. 2703 dan Ibnu Majah no. 4142. Syaikh al-Albani menyatakan shahih dalam kitab Shahîh Sunan Ibni Mâjah.

[11] HR. Muslim, no. 118/313.

[12] Tafsîr al-Baghawi,  VI/78.

[13] Tafsir al-Qurthubi, XIII/19.

[14] HR. Muslim,no. 2865/7207.

[15] HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman no. 1395. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2484.

[16] HR Al-Bukhari no. 332 dan Muslim no. 1479/3691.

[17] Tafsir Al-Qurthubi XIII/19.

Allahu ta'ala a'lam

Kamis, 06 April 2017

SYARAT-SYARAT  LÂ ILÂHA ILLALLÂH (لا إله إلاّ الله)

SYARAT-SYARAT  LÂ ILÂHA ILLALLÂH (لا إله إلاّ الله)

Kalimat Lâ ilâha illallâh merupakan fondasi agama Islam yang pertama. Kalimat tauhid ini akan bermanfaat bagi orang yang mengikrarkannya dengan 7 syarat yang telah dijelaskan oleh para Ulama, berdasarkan nash-nash al-Qur’ân dan as-Sunnah (al-Hadits). Apabila 7 syarat tersebut terpenuhi, maka kalimat tauhid itu akan bermanfaat di dunia dan di akhirat bagi orang yang mengucapkannya. Diantara manfaatnya adalah ia akan menjadi salah satu sebab masuk surga dan selamat dari neraka.

Tujuh syarat ini dikumpulkan oleh Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami (wafat 1377 H) dalam sya’irnya yang berjudul Sullamul Wushûl ilaa ‘Ilmil Ushûl:

اَلْعِلْمُ وَالْيَقِيْنُ وَالْقَبُوْلُ                                   وَالْإِنْقِيَادُ فَادْرِ مَا أَقُوْلُ

اَلصِّدْقُ وَالْإِخْلاَصُ وَالْمَحَبَّةُ                             وَفَّقَكَ اللهُ لِمَا أَحَبَّهُ

Ilmu, yaqin, dan menerima               

Serta tunduk, maka ketahuilah yang aku katakan!

Kebenaran (kejujuran), ikhlas, dan cinta

Semoga Allâh membimbingmu kepada apa yang Dia cintai

Oleh karena itu, setiap hamba wajib mengetahui dan memenuhi tujuh syarat Lâ ilâha illallâh ini. Memenuhi syarat-syaratnya, bukanlah sekedar menghitung dan menghafalnya, akan tetapi dengan mewujudkan syarat-syarat itu dalam dirinya, menjaganya dan tidak merusaknya.

Tujuh syarat tersebut adalah.

Ilmu yang menghilangkan kebodohan

Yaitu mengetahui dengan baik makna Lâ ilâha illallâh, serta mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan oleh kalimat ini.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allâh. [Muhammad/47: 19]

Jadi, orang yang bersyahadat Lâ ilâha illallâh harus mengetahui dengan hati mereka apa yang diucapkan oleh lidah mereka. Jika seseorang mengucapkannya, dengan tanpa mengetahui maknanya, maka kalimat itu tidak bermanfaat baginya, karena dia tidak meyakini apa kandungannya.  (Lihat kitab Muqarrar Tauhid li Shaffil Awwal al-‘Ali, 1/52)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa mati, dan dia mengetahui bahwa: Lâ ilâha illallâh, dia pasti masuk surga. [HR. Muslim, no. 26]

Yakin, Tanpa Ada Keraguan Sedikitpun

Yaitu orang yang bersyahadat itu benar-benar meyakini kandungan kalimat Lâ ilâha illallâh, tidak ragu sedikitpun. Karena iman itu harus dibangun di atas keyakinan, bukan persangkaan, apalagi keraguan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اذْهَبْ بِنَعْلَيَّ هَاتَيْنِ فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

Pergilah dengan kedua sandalku ini, siapa saja yang engkau temui di balik dinding ini, dia bersyahadat Lâ ilâha illallâh dengan  hati yang meyakini kalimat ini, maka berilah kabar gembira dengan surga. [HR. Muslim, no. 46]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, dan bahwa aku adalah utusan Allâh, tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allâh dengan membawa kedua (kalimat ini) dalam tidak ragu-ragu dengan kedua (kalimat ini), kecuali dia masuk surga. [HR. Muslim, no. 27, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Adapun orang yang ragu-ragu terhadap kalimat ini, dialah orang munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allâh dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. [At-Taubah/9:45]

Menerima, Tidak Menolak

Yaitu menerima dengan penuh pasrah, tanpa menolak dan bersombong terhadap kalimat Lâ ilâha illallâh sebagaimana sikap orang-orang kafir. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ ﴿٣٥﴾ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

Sesungguhnya mereka (penduduk neraka) dahulu (di dunia) apabila dikatakan kepada mereka: “Lâ ilâha illallâh” (Tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allâh) mereka menyombongkan diri.

dan mereka berkata,”Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?” [Shoffaat/37: 35-36]

Patuh, Tidak Meninggalkan Kandungannya

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allâh, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.  [Luqman/31: 22]

Yang dimaksud dengan buhul tali yang kokoh adalah Lâ ilâha illallâh, sebagaimana penjelasan para Ulama.

Inilah sikap orang beriman: tunduk dan patuh kepada Rabb, Penguasanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allâh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allâh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al-Ahzab/33: 36]

Benar, Jujur, Tidak Bohong

Yaitu seseorang yang mengucapkan kalimat Lâ ilâha illallâh dengan lidahnya benar-benar sesuai dengan isi hatinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِإِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Tidak ada seorangpun yang bersyahadat Lâ ilâha illallâh dan Muhammad adalah utusan Allâh dengan benar dari hatinya kecuali Allâh mengharamkan neraka atasnya”. [HR. Al-Bukhâri, no.128; Muslim no.32,  dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu]

Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan syarat selamat dari neraka dengan bersyahadat yang benar dari hatinya, tidak sekedar mengucapkan dengan lidah tapi tidak sesuai dengan hatinya. Oleh karena itu, orang-orang yang mengucapkan hanya dengan lidah saja adalah orang munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allâh dan Hari Kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. [Al-Baqoroh/2: 8]

Ikhlas yang menghilangkan kesyirikan

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ  لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allâh mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan Lâ ilâha illallâh, dia mencari wajah Allâh dengan (perkataan) nya.” [HR. Al-Bukhâri, no.425, 667, 686, 6423, 7938; Muslim, no. 33, 657 dari ‘Itban bin Mâlik Radhiyallahu anhu]

Oleh karena itu, orang yang mengikrarkan kalimat Lâ ilâha illallâh wajib meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Karena dengan syirik, amal shalih sebanyak apapun akan gugur sia-sia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Allâh), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. [Az-Zumar/39: 65]

Cinta yang menghapus kebencian

Orang yang bersyahadat wajib mencintai kalimat Lâ ilâha illallâh, kandungannya, tuntutannya, mencintai orang-orang yang mengamalkannya serta membenci apa-apa yang bertentangan dengannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allâh akan mendatangkan suatu kaum yang Allâh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allâh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allâh, diberikan-Nya kepada siap yang dihendaki-Nya, dan Allâh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [Al-Mâidah/5:54]

Barangsiapa membenci kandungan Lâ ilâha illallâh atau apa saja yang diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla , berarti dia termasuk orang-orang kafir dan semua amal kebaikannya gugur. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ ﴿٨﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allâh menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allâh (al-Qur’an) lalu Allâh menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. [Muhammad/47: 8-9]

Inilah tujuh syarat Lâ ilâha illallâh. Semoga Allâh Azza wa Jalla akan mengumpulkan kita semua dalam surga-Nya yang kekal. Aamiin.

EMPAT DOSA BESAR YANG DILAKNAT PELAKUNYA OLEH ALLÂH AZZA WA JALLA

EMPAT DOSA BESAR YANG DILAKNAT PELAKUNYA OLEH ALLÂH AZZA WA JALLA

حَدَّثَنَا أَبُوْ الطُّفَيْلِ عَامِرُ بْنُ وَاثِلَةَ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ، فَأَتَاهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسِرُّ إِلَيْكَ. قَالَ: فَغَضِبَ، وَقَالَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسِرُّ إِلَيَّ شَيْئًا يَكْتُمُهُ النَّاس غَيْرَ  أَنَّهُ قَدْ حَدَّثَنِيْ بِكَلِمَاتٍ أَرْبَعٍ. قَالَ: فَقَالَ: مَا هُنَّ يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ؟ قَالَ: قَالَ: لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ ، لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ ، لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُـحْدِثًا ، لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ

Abu ath-Thufail ‘Amir bin Watsilah menuturkan kepada kami, ia berkata: Aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib[1] Radhiyallahu anhu , lalu ada seseorang yang datang kepadanya dan berkata, ‘Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata rahasia kepadamu?’ Maka ‘Ali Radhiyallahu anhu marah dan ia berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata satu rahasia pun kepadaku yang ia sembunyikan dari orang lain, tetapi Beliau pernah bertutur kepadaku dengan empat kalimat.’ Maka orang tersebut berkata, ‘Apakah kalimat-kalimat tersebut, wahai Amirul Mukminin?’ ‘Ali Radhiyallahu anhu berkata:

Allâh melaknat orang yang menyembelih binatang untuk selain AllâhAllâh melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanyaAllâh melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatanAllâh melaknat orang yang mengubah batas tanda tanah.

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh :

Muslim (no. 1978 [42] dan 1978 [43])Al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad, no. 17An-Nasa`i, VII/232Ahmad, I/108, 118, 152Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, no. 22327Abu Ya’la, no. 602Al-Baihaqi, VI/99Al-Hakim, IV/153

KOSA KATA HADITS

بِأرْبَعِ كَلِمَاتٍ : dengan empat kata, maksudnya empat kalimat

لَعَنَ اللهُ : Makna al-la’n yaitu menjauhkan dari rahmat Allâh Azza wa Jalla

آوَى : menjaga, melindungi

مُحْدِثًا : Orang yang berbuat kejahatan dan berhak mendapat hukuman hadd

مَنَار : Jamak dari مَنَارَة yang berarti tanda

SYARH (PENJELASAN) HADITS

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya terhadap empat kejahatan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allâh Azza wa Jalla mengusir dan menjauhkan pelaku salah satu di antara perkara tersebut dari rahmat-Nya, yaitu:

Pertama, bertaqarrub dengan menyembelih untuk selain Allâh Azza wa Jalla , karena hal itu berarti memalingkan ibadah kepada selain Allâh Azza wa Jalla , sesuatu yang tidak berhak mendapat peribadahan.

Kedua, orang yang mendo’akan kejelekan terhadap kedua orang tuanya, baik dengan melaknat atau mencaci maki keduanya maupun menjadi sebab terjadinya hal tersebut, misalnya seseorang melakukan kejelekan-kejelekan di atas terhadap orang tua orang lain lalu orang lain tersebut membalasnya dengan perbuatan jelek serupa, maka itu sama dengan melakukan perbuatan jelek terhadap orang tuanya sendiri.

Ketiga, orang yang melindungi pelaku kejahatan yang pantas mendapatkan hukuman syar’i, misalnya dengan menghalang pelaksanaan hukum tersebut kepada orang itu, atau ia ridha terhadap kebid’ahan dalam agama dan mengakuinya.

Keempat, orang yang mengubah tanda batas tanah yang memisahkan hak pemilik masing-masing, dengan cara memajukan atau memundurkan (tanda-tanda) itu dari tempatnya yang benar. Sehingga dengan sebab itu terjadilah pengambilan sebagian tanah orang lain secara zhalim. [2]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

Allâh melaknat orang yang menyembelih binatang untuk selain Allâh

Menyembelih binatang pada asalnya adalah ibadah yang diperintahkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka laksanakanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allâh).” [Al-Kautsar/108:2]

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk menggabungkan dua ibadah tersebut, yaitu shalat dan berkurban. Keduanya menunjukkan perbuatan taqarrub (yang mendekatkan diri) kepada Allâh Azza wa Jalla , kerendahan hati, butuh  kepada Allâh, berbaik sangka, kuatnya keyakinan, dan tenangnya hati kepada Allâh dan kepada janji-Nya.

Dan ini berlawanan dengan keadaan para penyembah kubur dan orang yang seakan tidak butuh kepada Allâh Azza wa Jalla , yang mereka tidak shalat kepada-Nya dan tidak menyembelih kurban karena takut kefakiran. Karena inilah Allâh Azza wa Jalla menggabungkan kedua ibadah tersebut dalam firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allâh, Rabb seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim).’” [Al-An’âm/6:162-163]

Makna nusuk adalah penyembelihan untuk Allâh semata karena mengharapkan pahala dari-Nya. Keduanya (shalat dan menyembelih) merupakan ibadah yang paling mulia untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Dalam surat al-Kautsar, perintah tersebut didahului dengan huruf fa’, yang menunjukkan sebab, karena mengerjakan kedua ibadah tersebut merupakan sebab yang menuntun seseorang untuk bersyukur kepada Allâh atas apa yang Allâh Azza wa Jalla beri dari al-Kautsar.

Ibadah fisik yang paling mulia adalah shalat dan ibadah harta yang paling mulia adalah menyembelih. Tidak terkumpul pada ibadah shalat dalam diri seseorang sebagaimana yang terkumpul pada ibadah lainnya, sebagaimana yang diketahui oleh para pemilik hati yang hidup. Dan tidak terkumpul pada diri seorang hamba dalam ibadah penyembelihan –jika diiringi dengan iman dan ikhlas- dari kuatnya keyakinan dan husnuz zhann (berbaik sangka) melainkan perkara yang menakjubkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang banyak melakukan shalat dan berkurban.[3]

Tetapi jika seseorang menyembelih binatang untuk mendekatkan diri kepada selain Allâh Azza wa Jalla , seperti berhala, patung, pohon, batu, jin, dan selainnya, maka Allâh Azza wa Jalla melaknat orang tersebut. Setiap orang yang menyembelih untuk selain Allâh Azza wa Jalla , maka orang tersebut dilaknat oleh Allâh Azza wa Jalla . Ini menunjukkan betapa dosa itu sangat besar, karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak melaknat kecuali terhadap perkara dosa yang berbahaya. Ini menunjukkan besarnya dosa menyembelih untuk selain Allâh, bagaimanapun bentuk penyembelihan tersebut, baik sedikit atau banyak, dengan binatang yang besar atau kecil.

Bentuk penyembelihan kepada selain Allâh yaitu seseorang menyebut nama selain nama Allâh saat menyembelih, atau dengan niat dan hati serta keyakinannya untuk mendekatkan diri kepada selain Allâh dengan penyembelihan tersebut. Atau dengan sembelihan tersebut, dia ingin menolak bahaya dari sesuatu yang dia sembelih untuknya, seperti misalnya menyembelih untuk jin dengan maksud untuk menolak bahaya yang ditakutkan dari mereka atau karena takut kepada mereka, atau menyembelih untuk berhala agar mendapat manfaat dari berhala tersebut, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang-orang bodoh. Jika sudah lama tidak datang hujan, mereka menyembelih kerbau atau hewan lainnya di tempat tertentu, atau di kuburan tertentu dimana mereka ingin hujan turun di tempat tersebut. Terkadang mereka diuji dengan turunnya hujan itu, jadi terkabulnya doa mereka merupakan ujian dan cobaan dari Allâh Azza wa Jalla , bukan menunjukkan bolehnya perbuatan mereka yang termasuk syirik dan mendekatkan diri kepada selain Allâh Azza wa Jalla .

Barangsiapa melakukan hal tersebut, ia termasuk musyrik (orang yang berbuat syirik atau menyekutukan Allâh) yang terlaknat, baik ia melafazhkan dengan berkata ‘Sembelihan ini untuk kuburan fulan’ dan lafazh semisalnya atau ia hanya meniatkan dengan hatinya saja. Sembelihan ini haram, karena termasuk dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ 

Sesungguhnya Allâh hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allâh [Al-Baqarah/2:173]

Semua yang disembelih untuk selain Allâh mencakup apa-apa yang disembelih dengan menyebut selain nama Allâh, atau disembelih dengan nama Allâh tetapi diniatkan untuk berhala, jin, dan semisalnya.

Jadi, yang tercakup dalam penyembelihan untuk selain Allâh yaitu:

Sesuatu yang disembelih untuk selain Allâh Azza wa Jalla dalam rangka mendekatkan diri kepadanya. Walaupun dia menyebut bismillah, ini tetap haram sesuai ijma’ dan termasuk syirik, seperti menyembelih untuk berhala, penghuni kubur dan lainnya.Sesuatu yang disembelih untuk dimakan dagingnya, tetapi dengan menyebut nama selain Allâh Azza wa Jalla .Sesuatu yang disembelih ketika musim kemarau di tempat tertentu atau di kuburan tertentu agar hujan segera turun.Sesuatu yang disembelih ketika pertama kali memasuki rumah baru karena takut kepada jin.Menyembelih sapi atau kurban untuk ditanam kepala binatang tersebut agar bangunan menjadi kokoh dan kuat.Menyembelih binatang untuk menolak malapetaka, seperti menyembelih untuk Nyi Roro Kidul di Pantai Selatan, atau yang lainnya.

Ini semua termasuk penyembelihan kepada selain Allâh Azza wa Jalla dan merupakan perbuatan syirik besar (syirk akbar).

Apa saja yang disembelih untuk selain Allâh, maka tidak boleh dimakan, karena termasuk dalam firman-Nya:

وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allâh

Begitu pula sembelihan-sembelihan yang tidak dibaca Bismillah, maka tidak boleh dimakan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allâh, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik. [Al-An’âm/6:121]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ

Allâh melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya

Allâh Azza wa Jalla menggandengkan hak orang tua dengan hak-Nya dalam firman-Nya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan beribadahlah kepada Allâh dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapak…” [An-Nisâ’/4:36]

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ  أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا﴿٢٣﴾ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” [Al-Isrâ’/17:23-24]

Hak orang tua selalu disebutkan setelah hak Allâh Azza wa Jalla , begitu juga larangan berbuat buruk kepada orang tua disebutkan setelah larangan berbuat buruk pada hak Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana dalam hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: اَلْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ. وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ، فَمَازَالَ  يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ

Maukah aku beritahukan kepadamu dosa besar yang paling besar?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tiga kali. Kami (para Sahabat) menjawab, “Tentu, wahai Rasûlullâh !” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dan durhaka kepada kedua orang tua.” Awalnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersandar kemudian duduk dan bersabda, “Serta camkanlah, juga saksi palsu dan perkataan bohong.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengulanginya sehingga kami berkata (dalam hati kami), “Semoga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam.”[4]

Jadi tidak boleh seorang anak mencela orang tuanya dan ini merupakan dosa besar. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pelakunya, dan laknat terhadap sesuatu menunjukkan bahwa hal itu merupakan dosa besar, baik mencela secara langsung atau menjadi penyebab orang tuanya dicela. Karena sebagian orang ada yang tidak mencela orang tuanya secara langsung, tetapi dengan suatu sebab seperti ia mencela orang tua temannya, yang kemudian temannya itu membalas mencela orang tuanya. Maka ia menjadi sebab dalam pencelaan orang tuanya sendiri.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ:  نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Di antara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua orang tuanya.” Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Bagaimana mungkin seseorang mencaci kedua orang tuanya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar. Ia mencaci ayah orang lain, lalu orang itu akan mencaci ayahnya. Jika ia mencaci ibu orang lain, maka orang itu akan mencaci ibunya.”[5]

Seorang Muslim tidak boleh menjadi pelaknat, pencela,  dan berakhlak buruk. Seorang Muslim wajib menjadi orang yang beradab dan berbicara dengan kata-kata yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

… Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia … [Al-Baqarah/2:83]

Jika kepada orang lain kita diperintahkan untuk berkata baik, apalagi kepada orang tua. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar berkata kepada mereka dengan perkataan yang mulia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

… dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. [Al-Isrâ’/17: 23]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُـحْدِثًا

Allâh melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatan

Yaitu orang yang melindungi orang lain yang berbuat kejahatan dengan kedudukannya, kekuatannya, kekuasaannya atau dengan pasukannya, agar pelaku kejahatan itu tidak dikenai hukuman hadd. Apa yang dia lakukan ini juga termasuk dosa besar dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknatnya.

Abu as-Sa’adat rahimahullah (Ibnul Atsir, wafat th. 606 H) berkata tentang makna مُحْدِثًا, “Kata tersebut ada yang meriwayatkan dengan mengkasrahkan huruf Dal (مُحْدِثًا) dan ada juga yang memfathahkannya (مُحْدَثًا). Jika dikasrahkan, maka maknanya : pelaku, (jadi makna hadits di atas adalah-red) orang yang menolong pelaku kejahatan, melindunginya, menyelamatkannya dari lawannya, dan menghalanginya agar tidak diqishash.

Sedangkan jika difathahkan huruf Dalnya, maknanya adalah objek, yaitu perkara bid’ah itu sendiri. Jadi makna (hadits di atas jika difathahkan yaitu-red) ridha dan sabar terhadapnya. Karena seseorang jika ridha terhadap suatu bid’ah dan mengakui pelakunya serta tidak mengingkarinya, maka ia telah melindunginya.”[6]

Seorang Muslim tidak boleh melindungi, menolong atau membantu pelaku kejahatan atau pelaku bid’ah, karena hal ini termasuk dalam ta’awun (tolong menolong) dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan dan bertakwalah kalian kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh Mahakeras siksa-Nya   [Al-Mâ`idah/5:2]

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ

Allâh melaknat orang yang mengubah batas tanda tanah

Ada tiga pendapat para Ulama tentang maksud dengan tanda-tanda tanah:

Pertama, yang dimaksud مَنَارَ الْأَرْضِ yaitu garis tanda batas tanah. Mengubahnya yaitu dengan melebihkannya dari batas yang seharusnya. Dalam hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ بِغَيْرِ حَقٍّ، طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

Barangsiapa mengambil sejengkal tanah (orang lain) tanpa hak, maka akan dikalungkan padanya dari tujuh bumi pada hari Kiamat[7]

Kedua, yang dimaksud مَنَارَ الْأَرْضِ yaitu tanda-tanda tanah haram yang diharamkan di sana membunuh hewan buruan, diharamkan menebang pohon dan rerumputannya, dan diharamkan mengambil barang temuan yang hilang. Allâh Azza wa Jalla menjadikan daerah sekitar Ka’bah haram dari segala sisi. Ini merupakan kota yang tidak boleh dimasuki oleh orang musyrik dan tidak boleh berperang di dalamnya kecuali jika untuk membela diri. Jadi yang dimaksud مَنَارَ الْأَرْضِ di sini yaitu tanda-tanda yang dijadikan batas di sekitar tanah haram dari semua sisi, dari daerah Tan’im, Hudaibiyyah, ‘Arafah dan Namirah, serta dari Ji’ranah.

Ketiga, yang dimaksud مَنَارَ الْأَرْضِ yaitu tanda-tanda yang ada di jalan umum yang kita kenal, seperti papan-papan penunjuk lalu lintas di jalan. Maka ini tidak boleh diubah karena dapat menyesatkan orang-orang.

Dan yang paling kuat yaitu pendapat yang pertama. Wallâhu a’lam.[8]

FAWAA-ID[9]

Dalam hadits ini ada bantahan terhadap orang-orang syi’ah yang mengatakan bahwa Ali Radhiyallahu anhu mendapat wasiat khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .Tidak ada wasiat sama sekali untuk Ali Radhiyallahu anhu untuk menjadi khalifah sesudah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.Ada dalil tentang dianjurkannya menulis Ali Radhiyallahu anhu marah kepada orang yang berkata bahwa beliau Radhiyallahu anhu mendapat wasiat khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamKalau ada orang yang berkata bahwa Ali adalah وَصِيّ (yang diberi wasiat) maka perkataan ini adalah dusta dan bohong.Orang-orang syi’ah adalah para pendusta dan pembohong, tidak boleh dipercaya seumur hidup.Menyembelih binatang kurban untuk selain Allâh Azza wa Jalla hukumnya adalah haram dengan keharaman yang sangat keras, baik yang disembelih itu unta, sapi, ayam, atau yang lainnya.Menyembelih kurban untuk selain Allâh Azza wa Jalla adalah syirik dan dosa besar yang paling besar.Sembelihan untuk berhala dan yang lain selain Allâh, maka tidak boleh dimakan.Menyembelih kurban adalah ibadah, wajib dipersembahkan hanya kepada Allâh Azza wa Jalla semata.Wajib berkata dengan perkataan yang baik dan mulia kepada kedua orang tua.Durhaka kepada kedua orang tua adalah perbuatan haram.Durhaka kepada kedua orang tua merupakan dosa besar.Melaknat (mencaci-maki) kedua orang tua adalah perbuatan haram, baik secara langsung maupun karena menjadi sebab dilaknatnya kedua orang tua oleh orang lain, misalnya dia melaknat kedua orang tua orang lain kemudian orang lain tersebut balas melaknat kedua orang tuanya. Ini sama dengan melaknar kedua orang tua sendiri.Haramnya menolong dan melindungi para pelaku kejahatan.Haramnya meridhai atau setuju dengan kebid’ahanHaramnya mengubah patok tanah dengan tujuan untuk mengambil hak/tanah orang lain.Bolehnya melaknat orang-orang fasik (secara umum/tanpa menentukan individu tertentu) agar mereka jera dari kemaksiatan.

MARAAJI

Kutubus sittah dan kitab hadits lainnyaTaisîrul ‘Azîzil Hamîd fî Syarh Kitâbit Tauhîd, Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, tahqiq: Usamah bin ‘Athaya bin Utsman al-‘Utaybi.Fat-hul Majîd Syarh Kitâbit Tauhîd, Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh.Al-Mulakhkhash fii Syarh Kitâbit Tauhîd, Syaikh Shalih al-Fauzan.I’ânatul Mustafîd bi Syarh Kitâbit Tauhîd, Syaikh Shalih al-Fauzan.Al-Jadîd fî Syarh Kitâbit Tauhîd, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz as-Sulaiman al-Qar’awi, tahqiq: Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad.

_______
Footnote

[1]  Beliau adalah ‘Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin Abul Hasan al-Hasyimi Radhiyallahu anhu , anak paman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Thalib. Dia orang yang pertama kali masuk Islam melalui Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan anak kecil. Beliau Radhiyallahu anhu menikahi Fathimah binti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau salah seorang yang mengikuti Perang Badar, Bai’atur Ridhwan, dan Perang Uhud, termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk Surga, Khulafa-ur Rasyidin yang keempat. Beliau Radhiyallahu anhu dibunuh oleh ‘Abdurrahman bin Muljam al-Muradi al-Khariji dengan tipu muslihat di Muamirah, 17 Ramadhan, yang terkenal pada tahun 40 H. Kuburan beliau tidak diketahui, sebagai satu hikmah yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

[2] Al-Mulakhkhash fî Syarh Kitâbit Tauhîd, hlm. 97-98

[3]  Majmû’ al-Fatâwâ, XVI/531

[4]  ShahihHR. Al-Bukhâri, no. 2654, 5976; Muslim, no. 87; Ahmad, V/36, 38; dan at-Tirmidzi, no. 1901, 2301, 3019.

[5]  ShahihHR. Al-Bukhâri, no. 5973 dan Muslim, no. 90 (146)). Ini lafazh Muslim.

[6]  An-Nihâyah fii Gharîbil Hadîts wal Atsar, I/351.

[7]  HR. Muslim, no. 1611; Ahmad, II/387, 388, dan 432 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

[8]  Syarah ini diringkas dari I’ânatul Mustafîd dengan berbagai tambahan dari kitab lainnya.

[9]  Al-Mulakhkhash, hlm. 98  dan al-Jadîd, hlm. 108.

***

by abuabie.blogspot.com

TIGA WASIAT AGUNG NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

TIGA WASIAT AGUNG NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Allâh Azza wa Jalla telah memberi karunia kepada Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam keindahan dalam ungkapan, kedalaman dalam wasiatnya, kesempurnaan dan keelokan perkataan. Barang siapa mempunyai hubungan ikatan yang kuat dengan sunnah dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , niscaya akan beruntung di dunia dan akhirat. Sejenak bersama sebuah wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ringkas dan menyentuh serta berisi semua kebaikan padanya.

Disebutkan di dalam kitab Musnad Imam Ahmad rahimahullah dan Sunan Ibnu Mâjah rahimahullah dari hadist Abu Ayyûb Al-Anshâri Radhiyallahu anhu, beliau berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: ”Nasihatilah aku dan persingkatlah!” dalam riwayat lain disebutkan: “ Ajarilah aku dan persingkatlah!”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ

“Jika kamu hendak melaksanakan shalat, maka shalatlah seperti shalat orang yang berpamitan dan janganlah mengatakan sesuatu yang akan membuatmu beralasan darinya dan berputus asa lah terhadap apa yang ada di tangan manusia.” [1]

Hadist ini hadist hasan dengan sebab penguat-penguatnya.

Hadist yang mulia ini berisi tiga wasiat agung yang mengumpulkan semua kebaikan. Barang siapa yang memahaminya dan mengamalkannya, niscaya mendapatkan semua kebaikan di dunia dan di akhirat.

Wasiat pertama :  Wasiat untuk mendirikan shalat, memperhatikan dan melaksanakannya dengan baik.

Wasiat kedua : Wasiat menjaga dan menahan lisan

Wasiat ketiga : Ajakan memiliki sifat Qona’ah dan menggantungkan hati hanya pada Allâh Azza wa Jalla .

Dalam wasiat pertama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru bagi orang yang memulai pelaksanaan shalat supaya melaksanakannya seperti shalat orang yang berpamitan (terakhir kali). Sudah dimaklumi orang yang akan berpisah akan membahas panjang lebar perkataan dan perbuatan yang tidak dapat dilakukan orang lain. Ini sudah dikenal pada perjalanan dan perpindahan mereka. Orang yang berpindah dari sebuah negeri dengan harapan kembali lagi  berbeda keadaannya dengan orang yang berpindah dengan tidak berharap kembali lagi. Orang yang berpamitan akan membahas panjang lebar yang tidak dilakukan orang lain.

Apabila seorang hamba shalat dengan mengingat sholatnya tersebut shalat terakhir dan merasa tidak akan pernah shalat lagi, maka dia akan bersungguh-sunguh mengerjakannya, memperbagus pelaksanaannya dan melakukan rukû’, sujud atau kewajiban dan sunnah-sunnah shalat lainnya dengan seksama.

Oleh karena itu, hendaknya setiap Mukmin untuk mengingat wasiat ini pada setiap shalat yang dikerjakannya. Mengingat shalat orang yang berpamitan dan merasakan didalamnya inilah shalat yang terakhir, tidak ada lagi shalat setelahnya. Apabila merasakan hal itu, maka perasaan tersebut akan membawa perbaikan dalam pelaksanaan dan kesempurnaannya.

Barangsiapa yang memperbagus shalatnya maka shalatnya  tersebut mengarahkannya pada kebaikan dan menjauhkannya dari semua keburukan dan kehinaan. Hatinya dipenuhi dengan keimanan, diapun merasakan manisnya iman. Jadilah Shalatnya penyejuk matanya, tempat istirahat, hiburan dan kebahagiannya.

Wasiat yang kedua: adalah wasiat untuk menjaga lisan. Sesungguhnya lisan sesuatu yang paling berbahaya yang ada pada manusia. Perkataan itu apabila belum diucapkan, masih dalam kekuasaan pemiliknya. Apabila perkataan itu telah keluar diucapkan dari lisan seseorang, maka perkataan tersebut menguasai pemilikinya dan harus sabar menanggung akibat dari perkataan yang diucapkannya tersebut. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا

“Janganlah mengatakan suatu perkataan yang membuatmu meminta maaf darinya”.

Maksudnya, bersungguh-sunguhlah menahan lisanmu dari setiap perkataan yang dikhawatirkan mengakibatkan kamu beralasan darinya dan yang akan menuntutmu untuk beralasan. Sesungguhnya jika engkau belum mengucapkan suatu perkataan, maka perkataan itu adalah milikmu, dan jika telah engkau ucapkan maka perkataan itu yang akan memilikimu (menguasaimu).

Dalam wasiat Nabi  kepada Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaba :

أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى، يَا نَبِيَّ الله! فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ الله! وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ! وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ ـ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ ـ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

Maukah engkau aku beritahukan sesuatu (yang jika engkau laksanakan) dapat menguasai semua itu ? Saya berkata : Mau ya Rasûlullâh. Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini. Saya berkata: Ya Nabi Allâh, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ? Beliau bersabda: Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal di atas wajahnya atau di atas hidungnya di neraka selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka. [2]

Lisan mempunyai bahaya yang begitu jelas dan telah ada sebuah hadist yang shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ، فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ: اتَّقِ اللهَ فِينَا، فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ؛ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا، وإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Jika waktu pagi tiba seluruh anggota badan mengingkari lisan dengan mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allâh terkait dengan kami karena kami hanyalah mengikutimu. Jika engkau baik maka kami akan baik. Sebaliknya jika kamu melenceng maka kami pun akan ikut melenceng). [3]

Sabda Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wasiat ini

لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا

berisi ajakan untuk mengintropeksi diri dari semua yang diucapkan dengan menimbang – nimbang apa yang akan diucapkan. Jika terdapat kebaikan maka dia ucapkan, jika terdapat keburukan maka dia menahannya dan jika yang akan dia ucapkan sesuatu yang meragukan tidak tahu apakah kejelekan atau kebaikan, hendaknya dia menahan lisannya sebagai bentuk kehati-hatian dari perkara yang meragukan sampai menjadi jelas. Oleh karena itulah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله واليَوْمِ الآخِرِ؛ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman pada Allâh dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam. [4]

Ironisnya, kebanyakan manusia tidak sadar telah menjerumuskan diri mereka pada perkara yang besar, hanya disebabkan sebuah perkataan lisan yang mereka anggap remeh. kemudian ucapan mereka itu mengakibatkan dampak buruk pada kehidupan dunia dan akhirat mereka. Orang yang berakal tentunya akan menimbang dan menjaga semua perkataannya dan tidak berkata kecuali sebagaimana yang disabdakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan perkataan yang tidak menuntutnya untuk beralasan darinya.

Dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam «بكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا» mengandung dua makna. Makna yang pertama meminta maaf dihadapan Allâh Azza wa Jalla kelak, atau yang kedua, meminta maaf pada manusia langsung ketika mereka menuntutmu akibat dampak dari perkataan dan ucapanmu.

Makna yang pertama ini mempunyai hubungan yang kuat dengan perkara sholat. Sebab dengan alasan apa yang disampaikan orang yang lalai dalam shalat kepada Rabb-Nya kelak (diakherat), padahal shalat adalah perkara yang pertama kali dihisab darinya.

Wasiat yang ketiga : Berisi ajakan untuk bersifat qona’ah, menggantungkan hati pada Allâh semata dan tidak berharap sama sekali dari semua milik orang lain.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاس

Pengertiannya: Teguhkan hatimu, berazam dan bertekad untuk tidak berharap dari semua milik orang lain. Sehingga tidak berharap sesuatu dengan bersandar kepada mereka, namun berharaplah hanya pada Allâh Azza wa Jalla semata. Jika dengan perkataanmu, tidak meminta kecuali hanya pada Allâh Azza wa Jalla , begitu juga hendaknya dengan perbuatanmu tidak berharap kecuali hanya pada Allâh Azza wa Jalla saja.

Shalat itu merupakan sarana penghubung antara engkau dan Rabb-mu. Shalat itu merupakan faktor terbesar yang dapat menolongmu mewujudkan hal ini.

Siapa yang tidak berharap sama sekali dari yang dimiliki orang lain, maka dia hidup tentram dan mulia. Siapa yang bergantung kepada milik orang lain, maka dia akan hidup gelisah dan terhina. Barang siapa hatinya bergantung pada Allâh Azza wa Jalla dengan tidak berharap, memenuhi kebutuhannya dan bertawakkal hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh Azza wa Jalla akan mencukupinya di dunia dan di akhirat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

Bukan kah Allâh yang mencukupi hambanya [Az-Zumar/39 : 36].

juga berfirman:

 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertawakal pada Allâh maka Dia akan mencukupinya [Ath-Thalâq/65:3]

Semoga Allâh memberi kita taufik untuk melaksanakan tiga wasiat tersebut.

Apa Alasanku Untuk Tidak berayukur?

Bismillaahirrohmaanirrohiim.. وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُوْنَ   “Dan seg...